Showing posts with label History Tour. Show all posts
Showing posts with label History Tour. Show all posts

Tuesday, August 29, 2017

Tari Babukung dari Kabupaten Lamandau yang Mencuri Perhatian

Tari Babukung yang berasal dari Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah ini rasanya masih asing di telinga. Namun, menurut Yohanes Indra lewat infonawacita.com, Tari Babukung yang tampil dalam acara Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Indonesia 2017 di Solo, Jawa Tengah ini berhasil memukau penonton dan memberi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Lamandau.

Tari Babukung itu dikabarkan tampil hingga tiga kali saat pembukaan, karnaval, dan penutupan, dan terus membuat penonton terpukau. Antusiasme Masyarakat Solo sangat luar biasa, sehingga Tari Babukung yang dinilai unik, klasik, natural, dan menarik.

[caption id="attachment_2308" align="aligncenter" width="800"] Bukung-bukung dalam Tarian Babukung. (foto: tgifmag.com)[/caption]

Tari Babukung sendiri sebenarnya memiliki filosofi yang amat kuat. Manurut Borneonews.co.id, setidak-tidaknya ada dua makna yang terkandung dalam kegiatan ritual Tari Babukung sebagai sebuah tradisi masyarakat adata Dayak dengan kepercayaan keharingan terdahulu. Yakni, saling membantu (bersedekah kepada keluarga korban yang ditinggal mati), dan makna berbagi yang dituangkan dalam bentuk menghibur orang yang bersedih ditinggal keluarga yang meninggal dengan tarian-tarian lucu.

Para penari dari Tarian Babukung disebut Bukung. Para Bukung, menurut tgifmag.com,  mengenakan Iuha’ ata topeng yang mencirikan 12 hewan dan karakter khas Lamandau. Mulai dari bukung buaya, anjing, udang, tingang (burung rangkong), betet (burung nuri), kelelawar, naga, rusa, bukung belanda, hingga bukung hantu. Yang terakhir ini nampak seram karena muka hantu topeng kayunya didominasi warna merah dan hitam, dan pemakainya berselimut baju dari ijuk. Bukung sendiri berarti hantu.

[caption id="attachment_2309" align="aligncenter" width="800"] Bukung hantu dalam Tarian Babukung. (foto: tgifmag.com)[/caption]

Festival Babukung sendiri diselenggarakan menjadi festival tahunan yang digelar di Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah.  Singkatnya, menurut Wikipedia,  Festival ini berawal dari Babukung merupakan sejenis tarian ritual adat kematian Suku Dayak Tomun di Lamandau. Tarian ini menggunakan topeng dengan karakter hewan tertentu yang disebut Luha, sedangkan para penari disebut Bukung. Bukung-bukung ini datang dari desa tetangga atau kelompok masyarakat dengan tujuan menghibur keluarga duka sembari menyerahkan bantuan. Melihat keunikan dan keeksotisan Babukung, Pemerintah Kabupaten Lamandau mengangkatnya menjadi salah satu agenda rutin festival budaya. Hasilnya ternyata cukup menggembirakan, perhatian dari masyarakat dan turis baik lokal maupun mancanegara sangat antusias.

[caption id="attachment_2310" align="aligncenter" width="800"] Tari Babukung dengan filosofi mendalam bagi kehidupan bersama dalam masyarakat dan yang perlu dilestarikan. (foto: tgifmag,com)[/caption]

Namun demikian, adapun Tari Babakung yang berusaha  dilestarikan saat ini dengan bentuk festival atau semacamnya adalah seni pertunjukkan. Sehingga murni mengambil intisari dari sisi seni dan budayanya, tidak pada sisi kesakralan pelaksanaan tradisinya. Sehingga, yang ditonjolkan salahsatunya adalah seni ukur, koreografo, keunikan kostum, iringan musik dan lain sebagainya.

Memang, lewat budaya ini kita jadi tahu, begitu banyak jenis topeng di Indonesia, juga ritual kepercayaan yang begitu kaya dimiliki oleh Indonesia. Luar biasa membanggakan, bukan?
Read more

Sunday, August 20, 2017

Museum Kata, Inspirasi Pencinta Sastra

Anda yang mencintai dunia sastra, tentu turut berbahagia akan kehadiran Museum Kata di Belitung Timur ini. Ya, Museum pertama kali ada dan hanya satu-satunya di Indonesia ini, dimiliki oleh Andrea Hirata. Di sana juga jelas tertulis 'Indonesia's First Literary Museum'. Ya, tentu ia mengingatkan Anda dengan Laskar Pelangi, karya novel yang luar biasa menggebrak itu.

Memang, museum ini dimulai dari kesuksesan Andrea Hirata dalam karya sastra dan film Laskar Pelangi. Museum Kata Andrea Hirata berlokasi di Jalan Laskar Pelangi no.7, Gantong, Belitung Timur. Banyak hal inspiratif yang dapat Anda temukan di museum ini.  ‘Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu’...itu barulah rangkaian kata sang Novelis, namun cukup inspiratif bukan? Bisa Anda bayangkan hal inspiratif apa lagi yang dapat Anda temukan di tempat ini.

[caption id="attachment_2043" align="aligncenter" width="855"] Museum Kata yang bersahaja. (foto: indonesiakaya.com)[/caption]

Bangunan yang seolah tak begitu besar itu ternyata memanjang ke belakang. Jika Anda sudah menikmati novel maupun film Laskar Pelangi, tentu Anda akan paham beberapa karakter tokoh di dalam sana.  Ruang Lintang, Ikal, dan Mahar, tertata apik lengkap dengan gambaran keunikan dari karakter para tokoh. Seturut namanya, ruangan ini berisikan gambar-gambar cuplikan adegan film Laskar Pelangi. Cover-cover dari novel Laskar Pelangi yang telah diterbitkan di berbagai negara juga ikut dipajang.

[caption id="attachment_2044" align="aligncenter" width="855"] Salah satu ruang tengah Museum Kata yang ditata begitu unik dan nampak nyaman berada di sana. (foto: indonesiakaya.com)[/caption]

Setelah ruang-ruang yang nyaman itu, Anda akan sampai ke ruang dapur. Anda akan melihat ruang dapur yang diubah menjadi semacam warung kopi. Warkop Kupi Uli, demikian ditulis di sana. Anda dapat memesan kopi agar lebih bisa menikmati suasana Museum Kata dengan lebih nyaman. Anda dapat berdiskusi sambil duduk-duduk santai. Hmm,...khas sastrawan sekali.

Menurut laman www.indonesiakaya.com, masuk ke Museum Kata tidak dikenakan biaya sama sekali. Namun menurut perkembangannya, oleh MomAbel dalam kompasiana.com, kini biaya masuk ke Museum Kata sebesar Rp. 50.000,-. Harga yang cukup sepadan karena Anda akan mendapat buku saku Laskar Pelangi yang hanya ada di sana saja. Cukup spesial bukan? Tentu saja dengan segudang inspirasi yang akan Anda bawa sebagai bekal perjalanan pulang.

[caption id="attachment_2045" align="aligncenter" width="855"] Warkop Kupi Kuli dalam Museum Kata ini melengkapi keunikan dan kesahajaan sebuah bangunan milik Novelis Andrea Hirata ini. (foto: indonesiakaya.com)[/caption]

Nah, salah satu bagian yang menjadi favorit para pegiat sastra, khususnya para penyair ada di tengah Museum Kata ini. Panggung terbuka dengan pepohonan pisang yang seolah dapat digunakan untuk pembacaan puisi, di sana tertulis ‘Mimbar Puisi Kebun’. Unik dan menarik bukan?

Hal yang paling membikin jiwa berdenyut ada di bagian paling  belakang Museum Kata. Sekolah Laskar Pelangi. Sekolah dengan bangunan sederhana ini merupakan sekolah gratis yang diselenggarakan Andrea Hirata, bagi anak-anak di sekitarnya.

Terasa sekali makna dan semangat yang hendak ditularkan sang Novelis kepada dunia. Anda akan memahami betapa karya sastra bisa menjadi bagian penting dalam kehidupan, bahkan mengubah nasib sebuah peradaban. Demikianlah Andera Hirata dengan Laskar Pelangi mengubah Belitung menjadi salah satu destinasi wisata dunia. Layaknya pesan Andrea Hirata pada para traveler di dinding depan sebelum masuk; Fiction is the New Power.
Read more

Saturday, August 19, 2017

Mengapa “Nol Kilometer”

Dalam wisata kota (city tour), sering ada beberapa cara untuk mengidentifikasi “the official centre point" atau "titik pusat kota". Namun, yang paling umum digunakan yaitu dengan mendeklarasikan “nol kilometer”(Kilometer Zero). Di berbagai negara, khususnya Eropa, yang paling populer digunakan untuk menjadi penanda “nol kilometer”(Kilometer Zero) adalah kantor pos tertua. Walaupun sebenarnya, ada banyak yang bisa dikatakan sebagai “the official centre point" atau "titik pusat kota," antara lain, stasiun utama, alun-alun, menara jam, gedung tertinggi, pusat pemerintahan, hingga monumen-monumen bersejarah.

[caption id="attachment_2032" align="aligncenter" width="500"] "Nol Kilometer" di Sabah, Kota Kinibalu, Malaysia. (foto: theborneopost.com)[/caption]

Nah, jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, ada yang mengingatkan mengenai konsep “the official centre point" atau "titik pusat kota" itu, yaitu kawasan kantor pos besar di ujung jalan Malioboro dan perempatan menuju alun-alun utara. Mengapa tempat itu dikenal sebagai “titik pusat kota”? Tentu saja, kawasan itu telah menorehkan sejarah bagi kota Yogyakarta, dari Gedung Agung Kepresidenan, kantor Pos besar, kantor Keuangan Bank Indonesia, monumen Serangan Umum Satu Maret hingga Museum Benteng Vredeburg dan Museum Sonobudoyo.

Maka, jelas, “the official centre point" atau "titik pusat kota" Yogyakarta terletak di kawasan itu. Bahkan, kebanyakan kalangan masyarakat Yogyakarta pun menyebutnya sebagai “nol kilometer”(Kilometer Zero). Sebutan itu, karena alasan adanya Kantor Pos besar semenjak zaman penjajahan dahulu.

Hal itu, persis dengan apa yang juga terjadi di Sabah Malaysia. Menurut laman theborneopost.com, lokasi kantor pos pada masa penjajahan yang masih tersisa dijadikan juga sebagai “titik nol”. Kantor pos tertua di kota Sabah itu menjadi penanda yang signifikan sebagai pusat nol kilometer untuk mengukur jarak perluasan menuju desa-desa atau kawasan lain. Hal itu merupakan ingatan sejarah akan pusat informasi utama yang pada zaman dahulu dimulai dari kantor pos. Nah, tentunya untuk zaman sekarang relevansinya menjadi berbeda, apalagi dengan kemajuan tehnologi komunikasi yang tidak hanya terbatas kantor pos.

[caption id="attachment_2033" align="aligncenter" width="500"] "The Milliarium Aureum" konsep awal gagasan"Nol Kilometer". (foto: wikipedia)[/caption]

Sebenarnya konsep “the official centre point" atau "titik pusat kota" didasari oleh gagasan akan The Milliarium Aureum atau Golden Milestone. Dalam laman wikipedia, dikatakan bahwa The Milliarium Aureum atau Golden Milestone itu berupa monumen yang terbuat dari perunggu, marmer atau emas, yang waktu itu didirikan oleh Kaisar Agustus di dekat Kuil Saturnus di Tengah Kota Roma Kuno. Tempat itu menjadi penanda baik arah maupun jarak bagi semua jalan yang menyebar di seluruh kekuasaan kekaisaran Romawi. Maka, menarik, jika Anda mencari dimanakah “nol kilometer”(Kilometer Zero) kota-kota besar yang lainnya, selain Yogyakarta yang terkenal dengan kawasan kantor pos besarnya itu. Ayo berwisata di “nol kilometer”(Kilometer Zero).
Read more

Sisi Lain Mitos Taman Sari Yogyakarta

Jika Anda mengunjungi kompleks pemandian raja Taman Sari Yogyakarta, akan ada banyak cerita mitos mengenai kecantikan dan eloknya Taman Sari ini. Biasanya cerita berkisar mengenai sisi erotis kenimatan raja memandang para selir yang sedang mandi.

Cerita lalu bergulir dengan begitu liar mengenai fungsi Taman Sari yang dipandang sebagai bentuk voyeurism para kerabat penguasa menikmati waktu senggangnya bersama para putri dan selir cantik. Biasanya sudut-sudut kamar yang ada di Taman Sari pun, diceritakan sebagai saksi sejarah sensasional mengenai skandal kenikmatan seksual, khususnya yang dikenal dengan Umbul Pamuncar.

Namun, bernarkah, bahwa Taman Sari menyimpan mitos cerita erotik yang begitu terkenal dari mulut ke mulut itu. Jika Anda bertanya pada para pemandu, maka cerita-cerita itu akan diceritakan sebagai sesuatu yang dibiarkan misterius untuk memberikan kesan sensasional.

[caption id="attachment_2022" align="aligncenter" width="2069"] Berada di dalam bangunan tua Taman Sari, kesan mistis tertangkap kuat. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Padahal jika Anda telisik lebih mendalam, Taman Sari merupakan sebuah perpaduan arsitektur indah dari Hindu, Cina, Eropa, dan Islam yang dibangun sebagai taman peristirahatan bagi kerabat kerajaan. Menurut berbagai laman yang ada, salah satunya dari laman akarasa.com, Taman Sari dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Hingga saat ini pun, masih banyak perdebatan, siapa sebenarnya arsitek bangunan Taman Sari. Ada yang mengatakan bahwa bangunan Taman Sari dirancang oleh seorang Portugis bernama Demang Tegis, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bangun tersebut dirancang oleh orang Jawa bernama R. Ronggo Prawirosentiko yang mencoba mengadopsi bangunan Portugis.

Tentu misteri itu, akan menambah kemenarikan Anda ketika mengunjungi Taman Sari ini. Sebenarnya dalam sejarah tempat pemandian di dunia, ada banyak kajian yang menyiratkan segi kultural praktik tempat pemandian. Suemedha Sood dalam bbc.com travel, “The origins of bathhouse culture around the world” memberikan kajian menarik, bahwa praktik pemandian sudah ada semenjak ribuan tahun sejak zaman neolitik. Bahkan salah satu pemandian umum paling awal di dunia dibangun di Lembah Indus sekitar 2500 sebelum Masehi di kota Mohenjo-daro. Para antropolog mengatakan bahwa hal itu mungkin digunakan juga sebagai kuil, karena mandi dan kebersihan sangat terkait dengan kepercayaan agama.

Namun, sekitar tahun 300 sebelum masehi, praktik pemandian itu diadopsi oleh orang Romawi, menjadi peristirahatan dan rekreasi bagi para orang kaya. Biasanya, ada banyak kerumunan laki-laki dan perempuan mandi telanjang bersama. Nah, hal itulah yang akhirnya membawa citra budaya dan norma sosial yang berkembang dengan kebiasaan dan etiket yang berbeda, terutama soal pemandian umum.

Mungkinkah, mitos pemandian Taman Sari hanya ditujukkan sebagai pemandian sensasional tersebut? Silahkan Anda kunjungi dan temukanlah misterinya disana.

 

 
Read more

Wednesday, August 16, 2017

Di Rumah Laksamana Maeda, Semangat Merdeka Itu Tetap Ada

Ada satu peristiwa yang kerap terlupakan dalam rangkaian sejarah proklamasi Republik Indonesia. Persitiwa itu terjadi sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itu Perumusan Naskah Proklamasi yang dilaksanakan di gedung bekas kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori.

Gedung tempat Perumusan Naskah Proklamasi, sekarang ini dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.  Sudah tentu, faktor lokasi dan gedung itu mempunyai nilai sejarah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesa dalam kaitannya dengan penyusunan naskah proklamasi.

Sebagai museum sejarah, museum ini akan mengungkapkan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Tentu saja, keadaan pada saat itu tidak mungkin kita lihat pada saat sekarang tanpa mengadakan penggambaran ulang peristiwa itu.

[caption id="attachment_1931" align="aligncenter" width="770"] Ruang Perumusan Naskah Proklamasi (foto: munasprok.or.id)[/caption]

Ada hal penting yang harus diingat. Peristiwa tersebut merupakan salah satu rangkaian sejarah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia karena di sinilah awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka, singgahilah Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta.

Sejarah gedung


Menurut laman resmi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, gedung ini didirikan sekitar tahun 1920-an dengan arsitektur Eropa. Dengan luas tanah 3.914 M2 sedangkan luas bangunannya 1.138,10 M2.

Gedung ini telah dihuni oleh beberapa penghuni yang berbeda. Pada tahun 1931, pemiliknya atas nama PT. Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah perang Pasifik, gedung ini dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia.

Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang, sampai Sekutu mendarat di Indonesia September 1945. Setelah kekalahan Jepang, gedung ini menjadi Markas tentara Inggris.

[caption id="attachment_1932" align="aligncenter" width="750"] Ruangan tempat pengetikan naskah proklamasi. (foto: munasprok.or.id)[/caption]

Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada tahun 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Besar Inggris sampai dengan 1981 dan pada tahun 1982 gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Akhirnya berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No.1 ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang kebudayaan berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: munasprok.or.id
Read more

Monday, August 14, 2017

Museum Purbakala Sangiran, Sambangi Jejak Manusia Purba

Teringat masa sekolah, nama Sangiran melekat di kepala, ketika pelajaran sejarah mengenai manusia purba tiba. Paling diingat lagi yaitu, Pithecanthropus erectus, yang sering menjadi bahan bercanda untuk saling mengolok-olok teman. Haha...

Tak disangka, ternyata lokasi penemuan fosil peninggalan jaman purba, yang tentu saja membuat Indonesia dikenal dunia, bisa ikut kita pelajari lewat Museum Purbakala Sangiran yang berdiri amat megah.

[caption id="attachment_1862" align="aligncenter" width="700"] Gapura Museum Purbakala Sangiran yang unik. (foto: beritagar.com)[/caption]

Lewat Wikipedia, dapat diketahui bahwa museum arkeologi ini terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Museum Purbakala Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi objek wisata yang menarik, juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Tertata amat rapi dan detil, Museum Purbakala Sangiran ini mampu menjawab rasa keingintahuan Anda akan pola kehidupan manusia purba di Jawa.  Peradaban ini menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi.

Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah yaitu Pithecanthropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh seorang arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.

[caption id="attachment_1863" align="aligncenter" width="960"] Replika kehidupan manusia purba di Museum Purbakala Sangiran. (foto: adirafacesoftindonesia.com)[/caption]

Di area situs Sangiran ini, jejak peninggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Para ahli dapat merangkai benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Amat menarik bukan?

Berbagai koleksi fosil museum manusia purba antara lain cetakan fosil manusia purba, fosil manusia Homo Sapiens, fosil binatang air, batuan rijang, kalsedon dan agate, fosil tumbuhan laut, alat-alat bantu, yang kesemuanya merupakan hasil budaya manusia purba yang beradaptasi dengan lingkungannya.

[caption id="attachment_1864" align="aligncenter" width="3264"] Fosil binatang yang ditemukan dan dikoleksi di Museum Purbakala Sangiran. (foto: ppitta.com)[/caption]

Tak hanya museum tempat menampung dan memamerkan benda koleksi, di sini terdapat berbagai fasilitas yang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Selain Ruang Pameran, terdapat juga Audio Visual, Mess Peniliti yaitu semacam penginapan untuk para peneliti, Gardu Pandang Sangiran yang membuat Anda dapat memandang keaslian alam Sangiran, dan di jalan keluar, terdapat Kios-Kios Penjual Cinderamata yang menyediakan berbagai souvenir khas daerah Sangiran, salah satunya ‘batu indah bertuah’ yang didapat dari Kali Cemoro.

Nah. Apabila Anda penasaran, mari sambangi jejak manusia purba ke Museum Purbakala Sangiran.
Read more

Friday, August 11, 2017

Museum Keris Nusantara; Tempat Tradisi dan Filosofi Dirawat Sepenuh Hati

Museum Keris Nusantara telah resmi beroperasi. Presiden Joko Widodo meresmikan  museum yang terletak di Surakarta atau Solo, Jawa Tengah pada Rabu, 9 Agustus 2017.

Menurut rilis resmi Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin yang diterima Traveltoday, Presiden Jokowi akan menyumbangkan keris koleksi pribadinya untuk Museum Keris Nusantara agar dirawat dan dipamerkan.

“Salah satunya yang kemarin disampaikan oleh PM Belanda akan saya bawa nanti pas ke Solo, termasuk keris-keris yang saya punya saya simpan di sini saja sudah, dihibahkan, dirawat oleh museum, saya nggak sanggup merawat sendiri,” kata Presiden disambut tepuk tangan para undangan yang hadir.

Menurut Presiden, keris merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki nilai-nilai dan filosofi yang tinggi. Bahkan keris Indonesia sudah dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia non-bendawi manusia oleh UNESCO di tahun 2005.

“Artinya, walaupun kita berupaya mengejar kemajuan tapi kita tidak boleh tercerabut dari tradisi, tidak boleh meninggalkan nilai-nilai adiluhung bangsa. Untuk itu sudah seharusnya kita terus menjaga, melestarikan warisan budaya bangsa, termasuk keris,” ucapnya.

Presiden sumbang 5 keris


[caption id="attachment_1755" align="aligncenter" width="640"] Presiden Joko Widodo mendapat penjelasan mengenai keris koleksi Museum Keris Nusantara dari petugas didampingi Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. (foto: Biro Pers Setpres)[/caption]

Saat bertemu jurnalis, Presiden mengatakan akan menyumbangkan lima keris ke museum keris tersebut. "Nanti saya antar langsung ke Pak Wali (Walikota Surakarta). Mungkin saya mau, saya kirim, satu, dua, tiga, lima lah," kata Presiden.

Museum yang dibangun sejak empat tahun lalu itu diharapkan dapat menjadi sarana untuk melihat perjalanan sejarah keris, tombak, dan pedang yang merupakan bagian dari warisan seni budaya bangsa.

Presiden menyampaikan, pengunjung nantinya bukan hanya akan bisa menyaksikan keindahan hasil karya para Empu Keris di masa lalu, tetapi juga bisa meresapi filosofi dari setiap keris yang dihasilkannya.

“Tapi ingat selalu bahwa museum dan sejarah adalah jendela kita menatap masa lalu, untuk melangkah optimis menyosong ke masa depan,” ucap Presiden.

Inspirasi nilai-nilai budaya


[caption id="attachment_1756" align="aligncenter" width="1004"] Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti peresmian Museum Keris Nusantara di Surakarta, Jawa Tengah, 9 Agustus 2017. (foto: Biro Pers Setpres)[/caption]

Presiden mengharapkan Museum Keris Nusantara dapat menjadi wujud penghargaan kita pada seni budaya sekaligus menjadi sumber inspirasi nilai-nilai budaya Jawa, nilai-nilai budaya nusantara.

“Semuanya menjadi kekayaan seni budaya nusantara yang harus terus kita jaga dan lestarikan,” kata Presiden.

Museum Keris Nusantara berlokasi di Jalan Bhayangkara, Surakarta. Bangunan museum itu terdiri dari empat lantai.

Lantai satu dipergunakan untuk bagian administrasi dan ruang audio visual. Lantai dua merupakan perpustakaan dan ruang anak. Lantai tiga digunakan untuk diorama dan ruang pameran, dan lantai empat merupakan ruang pameran utama.

Terdapat sekitar ratusan koleksi keris yang akan dipamerkan di museum tersebut yang bukan hanya keris dari Jawa, namun juga senjata-senjata tradisional Nusantara. (*)
Read more