Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Saturday, August 19, 2017

Mengapa “Nol Kilometer”

Dalam wisata kota (city tour), sering ada beberapa cara untuk mengidentifikasi “the official centre point" atau "titik pusat kota". Namun, yang paling umum digunakan yaitu dengan mendeklarasikan “nol kilometer”(Kilometer Zero). Di berbagai negara, khususnya Eropa, yang paling populer digunakan untuk menjadi penanda “nol kilometer”(Kilometer Zero) adalah kantor pos tertua. Walaupun sebenarnya, ada banyak yang bisa dikatakan sebagai “the official centre point" atau "titik pusat kota," antara lain, stasiun utama, alun-alun, menara jam, gedung tertinggi, pusat pemerintahan, hingga monumen-monumen bersejarah.

[caption id="attachment_2032" align="aligncenter" width="500"] "Nol Kilometer" di Sabah, Kota Kinibalu, Malaysia. (foto: theborneopost.com)[/caption]

Nah, jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, ada yang mengingatkan mengenai konsep “the official centre point" atau "titik pusat kota" itu, yaitu kawasan kantor pos besar di ujung jalan Malioboro dan perempatan menuju alun-alun utara. Mengapa tempat itu dikenal sebagai “titik pusat kota”? Tentu saja, kawasan itu telah menorehkan sejarah bagi kota Yogyakarta, dari Gedung Agung Kepresidenan, kantor Pos besar, kantor Keuangan Bank Indonesia, monumen Serangan Umum Satu Maret hingga Museum Benteng Vredeburg dan Museum Sonobudoyo.

Maka, jelas, “the official centre point" atau "titik pusat kota" Yogyakarta terletak di kawasan itu. Bahkan, kebanyakan kalangan masyarakat Yogyakarta pun menyebutnya sebagai “nol kilometer”(Kilometer Zero). Sebutan itu, karena alasan adanya Kantor Pos besar semenjak zaman penjajahan dahulu.

Hal itu, persis dengan apa yang juga terjadi di Sabah Malaysia. Menurut laman theborneopost.com, lokasi kantor pos pada masa penjajahan yang masih tersisa dijadikan juga sebagai “titik nol”. Kantor pos tertua di kota Sabah itu menjadi penanda yang signifikan sebagai pusat nol kilometer untuk mengukur jarak perluasan menuju desa-desa atau kawasan lain. Hal itu merupakan ingatan sejarah akan pusat informasi utama yang pada zaman dahulu dimulai dari kantor pos. Nah, tentunya untuk zaman sekarang relevansinya menjadi berbeda, apalagi dengan kemajuan tehnologi komunikasi yang tidak hanya terbatas kantor pos.

[caption id="attachment_2033" align="aligncenter" width="500"] "The Milliarium Aureum" konsep awal gagasan"Nol Kilometer". (foto: wikipedia)[/caption]

Sebenarnya konsep “the official centre point" atau "titik pusat kota" didasari oleh gagasan akan The Milliarium Aureum atau Golden Milestone. Dalam laman wikipedia, dikatakan bahwa The Milliarium Aureum atau Golden Milestone itu berupa monumen yang terbuat dari perunggu, marmer atau emas, yang waktu itu didirikan oleh Kaisar Agustus di dekat Kuil Saturnus di Tengah Kota Roma Kuno. Tempat itu menjadi penanda baik arah maupun jarak bagi semua jalan yang menyebar di seluruh kekuasaan kekaisaran Romawi. Maka, menarik, jika Anda mencari dimanakah “nol kilometer”(Kilometer Zero) kota-kota besar yang lainnya, selain Yogyakarta yang terkenal dengan kawasan kantor pos besarnya itu. Ayo berwisata di “nol kilometer”(Kilometer Zero).
Read more

Sisi Lain Mitos Taman Sari Yogyakarta

Jika Anda mengunjungi kompleks pemandian raja Taman Sari Yogyakarta, akan ada banyak cerita mitos mengenai kecantikan dan eloknya Taman Sari ini. Biasanya cerita berkisar mengenai sisi erotis kenimatan raja memandang para selir yang sedang mandi.

Cerita lalu bergulir dengan begitu liar mengenai fungsi Taman Sari yang dipandang sebagai bentuk voyeurism para kerabat penguasa menikmati waktu senggangnya bersama para putri dan selir cantik. Biasanya sudut-sudut kamar yang ada di Taman Sari pun, diceritakan sebagai saksi sejarah sensasional mengenai skandal kenikmatan seksual, khususnya yang dikenal dengan Umbul Pamuncar.

Namun, bernarkah, bahwa Taman Sari menyimpan mitos cerita erotik yang begitu terkenal dari mulut ke mulut itu. Jika Anda bertanya pada para pemandu, maka cerita-cerita itu akan diceritakan sebagai sesuatu yang dibiarkan misterius untuk memberikan kesan sensasional.

[caption id="attachment_2022" align="aligncenter" width="2069"] Berada di dalam bangunan tua Taman Sari, kesan mistis tertangkap kuat. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Padahal jika Anda telisik lebih mendalam, Taman Sari merupakan sebuah perpaduan arsitektur indah dari Hindu, Cina, Eropa, dan Islam yang dibangun sebagai taman peristirahatan bagi kerabat kerajaan. Menurut berbagai laman yang ada, salah satunya dari laman akarasa.com, Taman Sari dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Hingga saat ini pun, masih banyak perdebatan, siapa sebenarnya arsitek bangunan Taman Sari. Ada yang mengatakan bahwa bangunan Taman Sari dirancang oleh seorang Portugis bernama Demang Tegis, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bangun tersebut dirancang oleh orang Jawa bernama R. Ronggo Prawirosentiko yang mencoba mengadopsi bangunan Portugis.

Tentu misteri itu, akan menambah kemenarikan Anda ketika mengunjungi Taman Sari ini. Sebenarnya dalam sejarah tempat pemandian di dunia, ada banyak kajian yang menyiratkan segi kultural praktik tempat pemandian. Suemedha Sood dalam bbc.com travel, “The origins of bathhouse culture around the world” memberikan kajian menarik, bahwa praktik pemandian sudah ada semenjak ribuan tahun sejak zaman neolitik. Bahkan salah satu pemandian umum paling awal di dunia dibangun di Lembah Indus sekitar 2500 sebelum Masehi di kota Mohenjo-daro. Para antropolog mengatakan bahwa hal itu mungkin digunakan juga sebagai kuil, karena mandi dan kebersihan sangat terkait dengan kepercayaan agama.

Namun, sekitar tahun 300 sebelum masehi, praktik pemandian itu diadopsi oleh orang Romawi, menjadi peristirahatan dan rekreasi bagi para orang kaya. Biasanya, ada banyak kerumunan laki-laki dan perempuan mandi telanjang bersama. Nah, hal itulah yang akhirnya membawa citra budaya dan norma sosial yang berkembang dengan kebiasaan dan etiket yang berbeda, terutama soal pemandian umum.

Mungkinkah, mitos pemandian Taman Sari hanya ditujukkan sebagai pemandian sensasional tersebut? Silahkan Anda kunjungi dan temukanlah misterinya disana.

 

 
Read more

Wednesday, August 16, 2017

Di Rumah Laksamana Maeda, Semangat Merdeka Itu Tetap Ada

Ada satu peristiwa yang kerap terlupakan dalam rangkaian sejarah proklamasi Republik Indonesia. Persitiwa itu terjadi sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itu Perumusan Naskah Proklamasi yang dilaksanakan di gedung bekas kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori.

Gedung tempat Perumusan Naskah Proklamasi, sekarang ini dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.  Sudah tentu, faktor lokasi dan gedung itu mempunyai nilai sejarah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesa dalam kaitannya dengan penyusunan naskah proklamasi.

Sebagai museum sejarah, museum ini akan mengungkapkan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Tentu saja, keadaan pada saat itu tidak mungkin kita lihat pada saat sekarang tanpa mengadakan penggambaran ulang peristiwa itu.

[caption id="attachment_1931" align="aligncenter" width="770"] Ruang Perumusan Naskah Proklamasi (foto: munasprok.or.id)[/caption]

Ada hal penting yang harus diingat. Peristiwa tersebut merupakan salah satu rangkaian sejarah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia karena di sinilah awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka, singgahilah Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta.

Sejarah gedung


Menurut laman resmi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, gedung ini didirikan sekitar tahun 1920-an dengan arsitektur Eropa. Dengan luas tanah 3.914 M2 sedangkan luas bangunannya 1.138,10 M2.

Gedung ini telah dihuni oleh beberapa penghuni yang berbeda. Pada tahun 1931, pemiliknya atas nama PT. Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah perang Pasifik, gedung ini dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia.

Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang, sampai Sekutu mendarat di Indonesia September 1945. Setelah kekalahan Jepang, gedung ini menjadi Markas tentara Inggris.

[caption id="attachment_1932" align="aligncenter" width="750"] Ruangan tempat pengetikan naskah proklamasi. (foto: munasprok.or.id)[/caption]

Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada tahun 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Besar Inggris sampai dengan 1981 dan pada tahun 1982 gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Akhirnya berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No.1 ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang kebudayaan berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: munasprok.or.id
Read more

Jalan Kepanjen Surabaya Akan Dijadikan Kawasan Wisata Sejarah

Kawasan Jalan Kepanjen, Surabaya akan disulap menjadi kawasan wisata heritage. Keinginan Wali Kota Tri Rismaharini tersebut untuk membangkitkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang penuh dengan sejarah perjuangan.

Di kawasan tersebut memang dikenal memiliki beberapa bangunan bersejarah. Seperti SMPN 2, Masjid Kemayoran, Gereja Maria Perawan, dan Kantor Pos Kebonrojo.

"Yang gedung kantor pos itu kan dulunya sekolah SD Presiden Soekarno, ada juga gereja, SMPN 2 yang bangunannya bersejarah juga dan ada juga bangunan Masjid Kemayoran yang semuanya satu kawasan," kata Risma usai Sidang istimewa di Gedung DPRD Surabaya, Rabu (16/8/2017), dikutip dari detik.com.

Risma menuturkan rencananya. Ia berencana kawasan tersebut akan ditata secara khusus untuk menjadi kawasan wisata sejarah dengan beberapa kawasan di kawasan Surabaya utara lainnya.

"Jadi kawasan itu adalah salah satu simbol kota Surabaya yang akan kita tata khusus jadi kawasan wisata," ujar Risma.

Perencanaan matang


Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini akan mengajak kepala SKPD terkait melakukan survei lokasi untuk menjadikan kawasan Jalan Kepanjen, sebagai kawasan wisata.

Kapan akan dimulai, apakah mulai tahun ini? Risma mengaku berencana tahun depan. Alasannya, karena butuh perencanaan yang matang agar hasilnya maksimal.

"Pasti besar (anggaran) mungkin tahun depan. Kita harus menata jalan, PJU, menata pengamanannya, sirkulasi traffic sehingga bisa jadi kawasan wisata," tambah mantan Kepala Bappeko dan Kepala DKP Surabaya ini. (*)

Sumber: Detik.com
Read more

Monday, August 14, 2017

Museum Purbakala Sangiran, Sambangi Jejak Manusia Purba

Teringat masa sekolah, nama Sangiran melekat di kepala, ketika pelajaran sejarah mengenai manusia purba tiba. Paling diingat lagi yaitu, Pithecanthropus erectus, yang sering menjadi bahan bercanda untuk saling mengolok-olok teman. Haha...

Tak disangka, ternyata lokasi penemuan fosil peninggalan jaman purba, yang tentu saja membuat Indonesia dikenal dunia, bisa ikut kita pelajari lewat Museum Purbakala Sangiran yang berdiri amat megah.

[caption id="attachment_1862" align="aligncenter" width="700"] Gapura Museum Purbakala Sangiran yang unik. (foto: beritagar.com)[/caption]

Lewat Wikipedia, dapat diketahui bahwa museum arkeologi ini terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Museum Purbakala Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi objek wisata yang menarik, juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.

Tertata amat rapi dan detil, Museum Purbakala Sangiran ini mampu menjawab rasa keingintahuan Anda akan pola kehidupan manusia purba di Jawa.  Peradaban ini menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi.

Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah yaitu Pithecanthropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh seorang arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.

[caption id="attachment_1863" align="aligncenter" width="960"] Replika kehidupan manusia purba di Museum Purbakala Sangiran. (foto: adirafacesoftindonesia.com)[/caption]

Di area situs Sangiran ini, jejak peninggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Para ahli dapat merangkai benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Amat menarik bukan?

Berbagai koleksi fosil museum manusia purba antara lain cetakan fosil manusia purba, fosil manusia Homo Sapiens, fosil binatang air, batuan rijang, kalsedon dan agate, fosil tumbuhan laut, alat-alat bantu, yang kesemuanya merupakan hasil budaya manusia purba yang beradaptasi dengan lingkungannya.

[caption id="attachment_1864" align="aligncenter" width="3264"] Fosil binatang yang ditemukan dan dikoleksi di Museum Purbakala Sangiran. (foto: ppitta.com)[/caption]

Tak hanya museum tempat menampung dan memamerkan benda koleksi, di sini terdapat berbagai fasilitas yang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Selain Ruang Pameran, terdapat juga Audio Visual, Mess Peniliti yaitu semacam penginapan untuk para peneliti, Gardu Pandang Sangiran yang membuat Anda dapat memandang keaslian alam Sangiran, dan di jalan keluar, terdapat Kios-Kios Penjual Cinderamata yang menyediakan berbagai souvenir khas daerah Sangiran, salah satunya ‘batu indah bertuah’ yang didapat dari Kali Cemoro.

Nah. Apabila Anda penasaran, mari sambangi jejak manusia purba ke Museum Purbakala Sangiran.
Read more

Tuesday, August 8, 2017

Situs Ratu Boko; Bangunan Candi atau Istana?

Perjalanan sekitar 3 km sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan ini, mempertemukan saya dengan situs purbakala, semacam komplek sisa-sisa bangunan peninggalan abad ke-8.  Situs Ratu Boko. Letaknya berada di atas bukit yang tinggi, yaitu 196 meter di atas permukaan laut.

Bentuk bangunan Situs Ratu Boko memang seperti bangunan candi yang khas. Namun dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton atau istana raja. Dalam Wikipedia, pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks Situs Ratu Boko bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng. Adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan telah membuktikannya. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini.

Nah, sampai di sini bisa diambil kesimpulan bahwa Situs Ratu Boko adalah sebuah istana, bukan? Barangkali Anda bisa menemukan jawaban lebih setelah mengunjungi tempat ini. Sebagai catatan untuk Anda, sejak tahun 1995, situs ini telah dicalonkan UNESCO untuk dijadikan situs warisan dunia.

[caption id="attachment_1625" align="aligncenter" width="640"] Salah satu bagian dalam dari istana. (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Oke, lanjut. Nama Ratu Boko berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (dalam Bahasa Jawa: Raja Bangau) adalah ayah dari Loro Jonggrang lho! Masih ingatkah dengan kisahnya? Ada yang mengatakan bahwa Istana ini dulunya adalah Istana Loro Jonggrang.

Meski seolah kurang dikenal seperti situs bersejarah lain, siang itu saya dapati pengunjung tak henti-henti datang berganti-ganti. Keluar masuk lokasi dengan frekuensi yang lumayan sering. Anda bisa membeli tiket dan selanjutnya bisa mulai bersiap-siap berjalan masuk ke lokasi. Anda akan disuguhi panorama Gunung Merapi di kejauhan. Di muka gapura terdapat restoran dan Plaza Andrawina, sebuah ruang pertemuan terbuka.

Hal yang unik adalah, Situs Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, paseban, pendopo, pemukiman, kolam permandian atau keputren, hingga pagar pelindung. Di sana juga terdapat Gua Lanang dan Gua Wadon sebagai tempat meditasi.

Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat pembakaran mayat atau tempat kremasi.

[caption id="attachment_1626" align="aligncenter" width="640"] Betapa lokasi yang sangat luas... (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Kompleks ini sangatlah luas, jadi siapkan alas kaki yang cukup nyaman untuk perjalanan panjang. Selain itu, udara siang yang cukup panas nampaknya akan memaksa Anda untuk menyiapkan pelindung kepala. Saya sarankan sih, datanglah di pagi atau sore hari.

Namun akhirnya, seolah menjadi hadiah bagi Anda yang telah berjalan-jalan jauh, anda bisa menyewa tikar untuk duduk-duduk di taman yang luas sambil minum es kelapa muda. Sejumlah pedagang, tentu saja seijin pengelola, telah bersiap untuk Anda.

Ratu Boko juga terkenal dengan tempat yang paling oke untuk menikmati sunset. Puncak keindahannya di pukul 17.00WIB – 18.00 WIB. Siapkan kamera Anda dan abadikanlah momen indah tersebut.
Read more