Showing posts with label Spiritual Tour. Show all posts
Showing posts with label Spiritual Tour. Show all posts

Friday, September 1, 2017

Berwisata Religi ke Pulau Seribu Masjid, Islamic Center Kota Mataram

Pulau Lombok memang dikenal dengan Negeri Seribu Masjid.  Bagaimana tidak, pulau kecil seluas 5.435 km²   ini memiliki 4.500 masjid. Hal ini tak lepas dari tingginya semangat masyarakat Muslim di Lombok untuk membangun  masjid. Masyarakat dan pemerintah pun lantas berlomba-lomba membangun masjid paling indah dan megah. Maka, berdirilah Islamic Center dengan menara setinggi 99 meter sesuai dengan nama-nama Allah (Asma’ul Husna). Dan bangunan ini dibuka sebagai objek wisata religi Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Menurut www.republika,co.id, Kota Mataram yang merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat bermotokan "maju, religius dan berbudaya" memiliki penduduk yang heterogen dari berbagai macam suku, agama dan etnis, namun kehidupan warga di Kota Mataram memiliki toleransi yang tinggi sehingga mereka dapat hidup rukun dan aman. Hal itu terlihat dengan adanya tempat ibadah antarumat yang berdampingan satu dengan lainnya.

[caption id="attachment_2382" align="aligncenter" width="1920"] Islamic Center Kota Mataram dengan panorama Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. (foto: www.gomuslim.co.id)[/caption]

Rencana pembangunan Islamic Center Mataram terealisasi di tahun 2011 pada masa kepemimpinan gubernur M. Zainul Majdi, dan diresmikan pada 15 Desember 2013. Dana pembangunan bersumber dari APBD dan dana CSR PT. Newmont. Dibangun di atas lahan seluas 7,6 hektar di sudut jalan Langko dan Udayana yang merupakan jalur utama, dibangun begitu megah dengan memadukan karakteristik bangunan tradisional Lombok dan Sumbawa.

Menurut singgahkemasjid.blogspot.co.id, selain sebagai penanda Kota Mataram, Islamic Center Mataram ini berfungsi sebagai pusat kebudayaan, wisata religi, pasar seni, dan aktivitas religius lainnya. Dalam upaya mempromosikan wisata religi yang berpusat di Islamic Center ini, pemerintah setempat mensinergikan sumber daya setempat termasuk memberdayakan para perajin garmen dan kayu cukli yang merupakan produk kerajinan unggulan di Kota Mataram agar mereka membuat berbagai pernak-pernik bertemakan Islamic Center. Seperti gantungan kunci, pulpen, baju kaus bergambar Islamic Center, batik sasak samawa mbojo (sasambo) bermotif Islamic Center, serta aksesoris lainnya. Kini Masjid Islamic Center Mataram ini merupakan bangunan Masjid terbesar dan termegah di propinsi Nusa Tenggara Barat.

Adapun, dalam www.gomuslim.co.id, selain Islamic Center ini, menurut Komunitas Pulau 1000 Masjid, dari ribuan masjid yang ada di Pulau Lombok, maka masjid-masjid indah lainnya di pulau ini adalah Masjid Al Akbar, Masbagik, Lombok Timur, Masjid Kopang, Lombok Tengah, Masjid Agung Praya, Lombok Tengah, dan Masjid Jamiq, Selong, Lombok Timur.

 

 
Read more

Keindahan Masjid Cheng Hoo Surabaya

Proses perpaduan budaya memang menarik untuk menjadi sebuah kunjungan bagi wisata. Apalagi perpaduan itu, sangat terasa dari segi etnis dan agama yang menjadikannya menjadi unik dan menarik untuk dikunjungi. Salah satu yang indah dan unik adalah perpaduan antara Islam dan budaya Tiongkok dengan Masjid Cheng Ho atau juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya. Masjid ini terletak di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur.

Dalam laman ekspedisiwisata.blogspot.co.id dikatakan bahwa transportasi menuju ke lokasi Masjid Cheng Ho, dapat melalui Jalan Taman Kusuma Bangsa, tepatnya di seputar Jalan Gading Ketabang, Genteng, sebelah utara Gedung Balaikota Surabaya.

Masjid Cheng Ho ini dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa. Dilihat dari bentuk bangunannya pun sangat menarik bagi kunjungan wisata, terutama nuansa etnik dan antik perpaduan antara bangunan masjid dengan klenteng.

[caption id="attachment_2377" align="aligncenter" width="1024"] Masjid Cheng Ho atau juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya. (foro: Yugo Antono)[/caption]

Dalam laman travel.detik.com, dikatakan bahwa pengambilan nama Cheng Hoo sebagai rasa syukur dan penghormatan segenap muslim Surabaya dan Indonesia terhadap Laksamana Cheng Ho yang tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Bentuk bangunan Masjid Cheng Ho memang mempunyai keunikan tersendiri, dimana ada perpaduan gaya Tiongkok dan Arab yang diilhami keindahan Masjid Niu Jie di Beijing. Untuk itu, Masjid Cheng Ho pantas menjadi salah satu tempat kunjungan wisata ziarah. Perpaduan arsitekturnya tentu dapat mengingatkan akan indahnya keberagaman dan pesan perdamaian bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Maka, jika Anda ke Surabaya, mampir dan berziarahlah ke Masjid Cheng Ho yang terkenal ini. Anda tentu akan disuguhi pelajaran berharga tentang keindahan perpaduan budaya. Perpaduan budaya yang memberikan kita kesadaran akan indahnya Kebhinnekaan.

Masjid jika Anda perhatikan memang dibangun dengan filosofi tanpa pintu sebagai simbol keterbukaan. Bangunan Masjid Cheng Ho seakan ingin mengatakan pesan kepada siapa pun, dari etnis, bangsa dan bahasa apapun, berhak menggunakan masjid ini untuk beribadah. Model Masjid Cheng Ho ini sekarang banyak muncul di berbagai Kota lain di Jawa Timur, yaitu Pasuruan dan Jember.

 

 

 

 
Read more

Masjid Agung Jawa Tengah, Paduan Budaya Gaya Arsitektur nan Megah

Masjid Agung Jawa Tengah, masjid megah yang berada di Kota Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Menurut Wikipedia, Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa, Islam, dan Romawi.

Arsitek yang memenangkan sayembara desain adalah Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta. Bangunan utama masjid beratap lima, khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter di tiap penjuru atapnya, sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

[caption id="attachment_2367" align="aligncenter" width="1920"] Nampak paduan Romawi, Arab, dan Jawa yang berpadu dalam kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah. (foto: Barry Kusuma/youtube)[/caption]

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul di gerbang ditulis dua kalimat syahadat. Pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi. Masing- masing payung elektrik  berdiameter 14 meter dengan tinggi 20 meter. Payung elektrik dibuka setiap salat Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot.

Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter, merupakan daya tarik lain Masjid Agung jawa Tengah ini. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang.

[caption id="attachment_2368" align="aligncenter" width="874"] Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter, dalam lokasi Masjid Agung Jawa Tengah.[/caption]

Masjid Agung Jawa Tengah memiliki koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm². Ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Lokasi berada di dalam ruang utama tempat salat.

Bedug raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm, merupakan replika bedug Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia. Sedang tongkat khatib Masjid Agung Jawa Tengah sendiri merupakan tongkat pemberian Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darusalam.
Read more

Monday, August 28, 2017

Gereja Blenduk Semarang, di Sarang Bangunan Tua

Bangunan yang memiliki gaya Pantheon ini dikenal dengan Gereja Blenduk. Gereja Blenduk Semarang ini menurut betulcerita.blogspot.co.id merupakan Gereja yang dibangun pada 1753, merupakan salah satu landmark di Kota Lama. Dipugar tahun 1984 oleh arsitek HPA de Wilde dan Westmaas.

Berbeda dari bangunan lain di Kota Lama yang pada umumnya memagari jalan dan tidak menonjolkan bentuk, gedung yang bergaya Neo-Klasik ini justru tampil kontras. Bentuknya lebih menonjol. Lokasi bangunan ini berada di Jalan Letjend Suprapto No 32 Kota Lama Semarang dan bernama Gereja GPIB Immanuel.

[caption id="attachment_2286" align="aligncenter" width="1600"] Taman Srigunting yang terhampar di samping Gereja Blenduk. (foto: 4.bp.blogspot.com)[/caption]

Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Jumlah lantainya adalah dua buah. Bangunan ini menghadap ke Selatan.

Setiap hari Minggu, gereja ini masih digunakan untuk peribadatan. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda seperti Gedung Marba. Bisa dikatakan, Gereja Blenduk berada di sarangnya bangunan tua Kota Semarang.

Gereja Protestan yang lazim disebut Gereja Blenduk nama ini diberikan merunut pada bentuk kubahnya yang dalam bahasa Jawa disebut Blenduk (menggembung), sampai sekarang nama asli gereja ini tidak diketahui.

Setiap renovasi diabadikan lewat tulisan di atas batu marmer yang terpasang di bawah alter gereja. Renovasi-renovasi tersebut sama sekali tidak merubah ciri khas bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat.

Gereja Blenduk ini memiliki denah octagonal atau segi delapan beraturan dengan ruang induk di tengah, tepat di bawah kubah. Di bagian atas gereja, tepatnya di balkon masih terlihat organ (orgel) peninggalan jaman Belanda yang sudah berusia ratusan tahun. Sayang orgel ini sudah tidak bisa difungsikan lagi sebagai pengiring saat jemaah gereja bernyanyi.

Selain berfoto, anda bisa berjalan-jalan di Taman Srigunting yang rindang dan segar oleh semilir angin. Di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan tua Kota Lama yang menarik untuk diabadikan. Di waktu tertentu juga digelar semacam pasar yang menjual barang bekas. Bagi Anda yang suka mengoleksi barang-barang kuno, akan disuguhi perabotan unik, menarik dan kuno.

Bangunan kuno ini juga sering menjadi salah satu tempat untuk foto foto pre-wedding lho.

 
Read more

Sunday, August 20, 2017

Kemegahan Wisata Religi Patung Yesus, Buntu Burake, Toraja

Ikon patung Yesus yang begitu megah dengan sebutan Christ the Redeemer (Patung Kristus Penebus), tidak hanya ada di negeri Brasil. Namun, di Buntu Burake, Toraja, hadir sebuah wisata religi yang mempunyai nuansa yang sama. Disanalah tampak sebuah kemegahan “Statue of the Christ" dengan suasana perbukitan padas yang elok.

[caption id="attachment_2066" align="aligncenter" width="3264"] Panorama menuju Patung Yesus Buntu Burake, Tana Toraja. (foto: Purwoono Nugroho Adhi)[/caption]

Saat ini, kemegahan itu, dapat dikatakan menjadi ikon wisata di Tana Toraja. Lusia Kus Anna dalam laman Kompas Travel menceritakan sensasinya ketika mengunjungi tempat tersebut. Setelah melewati ratusan anak tangga, Anda diajak melewati deretan tangga terjal menuju pelataran patung. Sepanjang perjalanan, mata Anda akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah dari ketinggian bukit.

Sekeliling Anda, akan dimanjakan dengan hiasan batu-batu padas. Biasanya, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai puncak. Dari puncak tangga, itu, Anda dapat menyaksikan pemandangan alam Toraja dari ketinggian.

Jika Anda mampir ke wisata religi Patung Yesus, Buntu Burake, Toraja ini, janganlah lupa untuk membawa topi atau payung untuk melindungi terik matahari dari ketinggian. Pohon-pohon memang belum begitu banyak tumbuh di sekelilingnya. Hampir sebagian besar pemandangan adalah bukit padas. Namun, itu adalah sensasi tersendiri.

[caption id="attachment_2067" align="aligncenter" width="3264"] Seolah berada di Brasil, memandang keindahan yang sama, Patung Yesus Buntu Burake, Tana Toraja. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Luangkanlah waktu bagi mereka yang beragama Katolik untuk mampir ke gua Maria yang berada di sekitarnya. Walaupun jalan menuju ke gua Maria itu masih terjal, namun sudah dapat ditempuh dengan jalan kaki sekitar satu kilometer dari kawasan utama. Disana juga ada warung-warung yang menyediakan berbagai minuman dan makanan ringan.

Dalam laman indonesia.ucanews.com dikatakan bahwa tinggi bangunan patung Yesus itu mencapai 40 meter. Patung Yesus yang memang berukuran raksasa ini berdiri di puncak Buntu Burake yang tingginya sekitar 1.100 meter dari permukaan laut (dpl). Patung diresmikan pada tanggal 31 Agustus 2015. Anggaran yang digelontorkannya pun konon terbilang tidak sedikit, yaitu sekitar Rp 30 miliar.

Namun, semua itu terbayarkan, ketika patung Yesus itu menjadi salah satu ikon yang diharapkan mendatangkan ribuan wisatawan ke Tana Toraja. Anda akan seperti berada di Brasil, ketika datang ke Buntu Burake, Tana Toraja ini.

 

 

 
Read more

Saturday, August 19, 2017

Eksotisnya Gereja Tua Sikka

Kabupaten Sikka di Tanah Flores memberikan citranya yang menarik bagi kunjungan wisata. Disamping keindahan pantainya yang dikenal dengan Magepanda, Anda perlu mampir di sebuah gereja tua yang begitu eksotis menawarkan wisata rohani tersendiri. Gereja tua itu merupakan sebuah gereja dengan nama Gereja Santo Ignatius Loyola.

Aryo Wisanggeni dalam laman Kompas Travel pernah menceritakan keindahan dan eksotisme tersendiri ketika mengunjungi gereja tua Sikka ini. Memang dikatakan bahwa gereja tua Sikka yang sekarang ini berdiri, bukan lagi gereja tua asli yang berbentuk kapela yang waktu itu didirikan oleh seorang Lesu atau semacam junjungan utama yang dikenal dengan Da Silva. Gereja tua yang sekarang adalah bangunan yang didirikan pada tahun 1899. Gereja itu diresmikan oleh Pastor J. Engbers, SJ dan dirancang bangun oleh Pastor Dijkmans, SJ.

[caption id="attachment_2017" align="aligncenter" width="2069"] Gereja tua Sikka, tidak hanya berwisata secara rohani semata, melainkan menyeruak suasana lepas pantai yang semilir sendu. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Mengunjungi gereja tua Sikka ini, Anda tidak hanya berwisata secara rohani semata, melainkan menyeruak suasana lepas pantai yang semilir sendu. Gereja tua Sikka ini memang terletak di bibir samudera, sehingga Anda dapat memandang keindahan laut yang membentang biru. Sehingga pastinya, suasana begitu semilir akan membuat kalbu Anda semakin merasakan suasana yang nyaman.

Jika Anda mengunjungi gereja tua Sikka ini, terhampar bangunan gereja yang indah dengan ornamen paduan Portugis Eropa dan Malaka. Tentu bangunan kapel lama, sisa dari Da Silva ini masih berdiri, walaupun sudah tidak begitu terawat dan menua. Namun, sepertinya memberikan sebuah saksi bisu atas kisah para misionaris yang mengunjungi tanah Sikka itu.

Ketika Anda memasuki bangunan gereja tua Sikka itu, Anda akan diperlihatkan bangunan dengan kayu yang begitu elok. Tampak bangunan gereja begitu kokoh, namun tak hanya memperlihatkan ornamennya sebagai gereja Eropa, melainkan juga bentuk ukiran tenun ikat Tanah Flores.

Setelah memasuki pintu utama, Anda juga dapat melihat patung Menino Yesus, atau Yesus kecil. Patung seperti itu dikenal sebagai patung yang khas peninggalan para misionaris Portugis.

Maka, sempatkanlah mampir di gereja tua Sikka itu, tidak hanya berziarah, melainkan nikmatilah keindahan gereja tua di pinggir lautan samudera yang begitu cantik nan elok.

 
Read more

Saturday, August 12, 2017

Gunung Kemukus dan Ritual Pesugihan yang Salah Kaprah

Gunung Kemukus menjadi kesempatan saya berwisata setelah menginap semalam di Kota Sragen untuk membaca puisi. Bersama rombongan penyair dari berbagai kota di Indonesia, panitia mengajak kami mengunjungi berbagai tempat, salah satunya (yang ini spontan hehe), berziarah ke makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Kabupaten Sragen, Desa Pendem, Sumberlawang, Jawa Tengah.

Sebenarnya Gunung Kemukus tidak menjadi salah satu agenda panitia waktu itu. Salah satu kawan penyair dari Madura yang mengusulkannya. Ia pernah mendengar legenda Gunung Kemukus dan penasaran atasnya. Saya jadi ikut penasaran, karena panitia nampak berdebat alot untuk menuju ke tempat itu sebelum akhirnya menyerah. Ada apa sih dengan tempat yang satu ini? Hmm....

[caption id="attachment_1787" align="aligncenter" width="640"] Pemandangan luas Gunung Kemukus di kejauhan. (Foto: www.dombei.info)[/caption]

Tiba di sana, saya belum melihat keistimewaan Gunung Kemukus dari pertama masuk, pada waktu itu nampak tak begitu terawat dan sangat sepi. Mungkin hanya rombongan kami yang paling banyak. Meski ada beberapa warung penduduk yang juga sepi.

Entah siapa yang memulai dulu, kami masuk ke sebuah makam yang konon amat keramat. Makam Pangeran Samudro yang terawat. Pengeran Samudro jatuh sakit dan meninggal di Gunung Kemukus di tengah perjalanan pulang dari belajar agama Islam di Gunung Lawu menuju ke Demak.

Nama Gunung Kemukus sendiri  berawal ketika masyarakat sering melihat kabut hitam seperti asap yang berbentuk kukusan, nampak menyelimuti makam Pangera Samudro.  Demikian seperti dilansir dari Tety Permata Sari lewat sang Juru Kunci, Pak Hasto.

Menurut pemilik warung, tempat ini selalu ramai dikunjungi pada malam Jumat, terutama Jumat Pon dan Jumat Kliwon menurut kalender Jawa. Tempat ini dipercaya dapat digunakan untuk mencari pesugihan dengan syarat melakukan ritual seks, yang paling baik dilakukan pada Kamis Pahing atau Kamis Wage.

[caption id="attachment_1789" align="aligncenter" width="663"] Gunung Kemukus dan ritual pesugihan yang salah kaprah, namun selalu ramai di waktu-waktu khusus. (foto: Image Source)[/caption]

Jika Anda ingin kaya dan permohonan terkabul, Anda harus bersedia melakukan hubungan badan dengan yang bukan suami atau istrinya sebanyak tujuh kali kunjung. Nampaknya memang dipercaya secara turun temurun, hingga demikianlah Gunung Kemukus menjadi ramai pengunjung.

Kepercayaan itu dikuatkan dengan isu-isu bahwa Pangeran Samudro wafat dibunuh setelah melakukan hubungan badan dengan Nyai Ontrowulan yang adalah selir ayahnya. Mengenai ini Pak Hasto menepisnya dengan menceritakan bahwa sesungguhnya Nyai Ontrowulan mencari-cari keberadaan makam Pangeran Samudro, anak tirinya. Sebagai penebus dosa, Nyai Ontrowulan selalu mengunjungi makamnya. Di sana bahkan terdapat sendang, tempat Nyai Ontrowulan menyucikan diri.

[caption id="attachment_1790" align="aligncenter" width="1600"] Sudut lain makam Pangeran Samudro yang mistis. (foto: Tety Permana Saputri)[/caption]

Arya Amelia lewat KapanLagi Plus memberitakan, menurut penelitian beberapa mahasiswa UGM, ditemukan fakta bahwa wacana ritual seks demi meraih kekayaan memang sengaja diciptakan oleh oknum tertentu, demi meningkatkan bisnis prostitusi.

Kini, Pemerintah mulai membenahi obyek wisata Gunung Kemukus yang sesungguhnya merupakan wisata religi ini. Selain melarang praktik prostitusi, juga melarang pemberian info yang bias kepada masyarakat mengenai pesugihan yang salah kaprah.

Nah, nampaknya Gunung Kemukus perlu menjadi destinasi wisata religi Anda, demi mendengar kebenaran cerita, tentang ritual pesugihan yang salah kaprah.
Read more