Showing posts with label ekowisata. Show all posts
Showing posts with label ekowisata. Show all posts

Thursday, August 31, 2017

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.

Menurut Tempo.com, sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan.

"Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung.

[caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption]

Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi atau pengikisan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan sebagainya. Khususnya, tanaman mangrove jenis Bruguiera dan Avicennia yang bisa diolah menjadi bahan makanan yang lezat dan selama ini masyarakat setempat juga sudah memanfaatkannya.

Hutan mangrove ini merupakan hasil swadaya masyarakat setempat dibantu mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN). Dari PT Phapros juga sudah membantu dari CSR (corporate social responsibility). Untuk membuat pengunjung nyaman, Rusmadi mengatakan pengelola berencana menambah fasilitas, seperti perahu yang nantinya bisa mengangkut pengunjung dari hutan mangrove menuju Maerokoco.

Berkunjung ke Maron Mangrove Edupark ini memang sebaiknya dilakukan di pagi hari. Terlambat agak siang, membuat kita merasakan terik matahari yang menyengat. Namun Anda tak akan merasa rugi jika dibandingkan dengan pengalaman bermakna Anda pergi ke hutan bakau yang memiliki pemandangan dan edukasi yang menarik.

[caption id="attachment_2353" align="aligncenter" width="1600"] Hijaunya hijau, sepanjang jempatan panjang Maron Mangrove Edupark yang segar. (foto: services.sportourism.id)[/caption]

Maron Mangrove Edupark, menurut lihat.co.id,  merupakan sebuah tempat ekowisata mangrove yang sedang hits di Semarang. Tempat ini menjadi menarik lantaran view yang telah ditawarkan dan dihasilkan sangatlah menarik. Bukan hanya itu saja, jika kita berada di tempat ini juga bisa mendapatkan background berlatar belakang pesawat terbang.

Bukan hanya pesawat terbang saja, di tempat wisata ini juga telah ada sebuah menara yang memiliki tinggi 10 meter. Menara ini bisa Anda gunakan untuk foto-foto dari atas. Tentu hal ini bisa menghasilkan foto yang bagus pada saat berliburan ke Mangrove Edupark tersebut.

Nah, bagi Anda yang ingin berkunjung atau berliburan ke tempat wisata ini,  Anda bisa datang langsung ke Tugurejo, Tugu, Tugurejo, Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Selain Maroon Mangrove Edupark, ada beberapa destinasi mangrove di Semarang, seperti hutan mangrove di Taman Maerokoco, Ekowisata Mangrove di Desa Tapak, kemudian Pantai Trimulyo, Semarang.
Read more

Monday, August 14, 2017

Ternyata, Ada 258 Spesies Burung di Raja Ampat

Raja Ampat di Papua Barat telah menjadi destinasi wisata yang diidamkan oleh para traveler. Tak hanya terkenal dengan obyek wisata bahari dan keindahan terumbu karangnya, di sana juga memiliki 258 jenis spesies burung.

Papua sendiri memiliki 10 burung endemik dan 6 di antaranya berasal dari Raja Ampat. Menurut Kepala Dinas Pariwisata setempat, Yusdi Lamatenggo mengatakan, enam burung endemik tersebut di antaranya aepypodius bruijnii (maleo waigeo) dan chalcopsitta atra (nuri hitam atau black lory). Kemudian cicinnurus respublica (cenderawasih botak), ducula myristicivora (pergam rempah), monarcha julianae (kehicap kofiau), paradisaea rubra (cenderawasih merah).

“Sehingga Raja Ampat dijuluki juga sebagai jantung wisata burung di Papua,” katanya kepada wartawan seperti dikutip dari tabloidjubi.com.

Ekowisata


Masih menurut Yusdi, pemerintah daerah mendukung pengembangan wisata burung melalui kegiatan ekowisata berbasis masyarakat. Pengelolaan wisata tersebut harus sesuai prinsip-prinsip konservasi untuk menjaga kelestarian alamnya.

Yusdi mengakui bahwa informasi mengenai potensi ragam hayati di destinasi wisata andalan tersebut masih perlu disebarluaskan.

“Saat ini belum banyak informasi terkait potensi ragam hayati hutan Raja Ampat yang terangkat, termasuk ragam hayati burung. Hutan di Kepulauan Raja Ampat adalah rumah bagi beragam tumbuhan dan hewan unik dari jenis amfibi, reptil, serta mamalia. Ini menjadi aset yang perlu dijaga,” katanya.

Para pecinta burung dan fotografer kini mulai berdatangan untuk menikmati pesona dan keindahan burung-burung, kata Yusdi. Oleh karena itu, pihaknya berupaya membangun trek-treknya dan membuat pos pengamatan agar tidak menganggu habitat burung-burung.

Kepala BKSDA Papua Barat, Agung Setyabudi, mengatakan, endemik di Raja Ampat tersebar di beberapa pulau yang khusus dipantau pihaknya agar tidak punah dan tetap lestari.

Penyebaran burung-burung tersebut barada Pulau Waigeo, Misool, Kofiau, Batanta, dan Pulau Salawati. (*)
Read more