Showing posts with label Wisata Semarang. Show all posts
Showing posts with label Wisata Semarang. Show all posts

Friday, September 1, 2017

Masjid Agung Jawa Tengah, Paduan Budaya Gaya Arsitektur nan Megah

Masjid Agung Jawa Tengah, masjid megah yang berada di Kota Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Menurut Wikipedia, Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural campuran Jawa, Islam, dan Romawi.

Arsitek yang memenangkan sayembara desain adalah Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta. Bangunan utama masjid beratap lima, khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter di tiap penjuru atapnya, sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

[caption id="attachment_2367" align="aligncenter" width="1920"] Nampak paduan Romawi, Arab, dan Jawa yang berpadu dalam kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah. (foto: Barry Kusuma/youtube)[/caption]

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul di gerbang ditulis dua kalimat syahadat. Pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.

Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi. Masing- masing payung elektrik  berdiameter 14 meter dengan tinggi 20 meter. Payung elektrik dibuka setiap salat Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot.

Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter, merupakan daya tarik lain Masjid Agung jawa Tengah ini. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang.

[caption id="attachment_2368" align="aligncenter" width="874"] Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter, dalam lokasi Masjid Agung Jawa Tengah.[/caption]

Masjid Agung Jawa Tengah memiliki koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm². Ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Lokasi berada di dalam ruang utama tempat salat.

Bedug raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm, merupakan replika bedug Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia. Sedang tongkat khatib Masjid Agung Jawa Tengah sendiri merupakan tongkat pemberian Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darusalam.
Read more

Thursday, August 31, 2017

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.

Menurut Tempo.com, sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan.

"Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung.

[caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption]

Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi atau pengikisan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan sebagainya. Khususnya, tanaman mangrove jenis Bruguiera dan Avicennia yang bisa diolah menjadi bahan makanan yang lezat dan selama ini masyarakat setempat juga sudah memanfaatkannya.

Hutan mangrove ini merupakan hasil swadaya masyarakat setempat dibantu mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN). Dari PT Phapros juga sudah membantu dari CSR (corporate social responsibility). Untuk membuat pengunjung nyaman, Rusmadi mengatakan pengelola berencana menambah fasilitas, seperti perahu yang nantinya bisa mengangkut pengunjung dari hutan mangrove menuju Maerokoco.

Berkunjung ke Maron Mangrove Edupark ini memang sebaiknya dilakukan di pagi hari. Terlambat agak siang, membuat kita merasakan terik matahari yang menyengat. Namun Anda tak akan merasa rugi jika dibandingkan dengan pengalaman bermakna Anda pergi ke hutan bakau yang memiliki pemandangan dan edukasi yang menarik.

[caption id="attachment_2353" align="aligncenter" width="1600"] Hijaunya hijau, sepanjang jempatan panjang Maron Mangrove Edupark yang segar. (foto: services.sportourism.id)[/caption]

Maron Mangrove Edupark, menurut lihat.co.id,  merupakan sebuah tempat ekowisata mangrove yang sedang hits di Semarang. Tempat ini menjadi menarik lantaran view yang telah ditawarkan dan dihasilkan sangatlah menarik. Bukan hanya itu saja, jika kita berada di tempat ini juga bisa mendapatkan background berlatar belakang pesawat terbang.

Bukan hanya pesawat terbang saja, di tempat wisata ini juga telah ada sebuah menara yang memiliki tinggi 10 meter. Menara ini bisa Anda gunakan untuk foto-foto dari atas. Tentu hal ini bisa menghasilkan foto yang bagus pada saat berliburan ke Mangrove Edupark tersebut.

Nah, bagi Anda yang ingin berkunjung atau berliburan ke tempat wisata ini,  Anda bisa datang langsung ke Tugurejo, Tugu, Tugurejo, Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Selain Maroon Mangrove Edupark, ada beberapa destinasi mangrove di Semarang, seperti hutan mangrove di Taman Maerokoco, Ekowisata Mangrove di Desa Tapak, kemudian Pantai Trimulyo, Semarang.
Read more

Monday, August 28, 2017

Gereja Blenduk Semarang, di Sarang Bangunan Tua

Bangunan yang memiliki gaya Pantheon ini dikenal dengan Gereja Blenduk. Gereja Blenduk Semarang ini menurut betulcerita.blogspot.co.id merupakan Gereja yang dibangun pada 1753, merupakan salah satu landmark di Kota Lama. Dipugar tahun 1984 oleh arsitek HPA de Wilde dan Westmaas.

Berbeda dari bangunan lain di Kota Lama yang pada umumnya memagari jalan dan tidak menonjolkan bentuk, gedung yang bergaya Neo-Klasik ini justru tampil kontras. Bentuknya lebih menonjol. Lokasi bangunan ini berada di Jalan Letjend Suprapto No 32 Kota Lama Semarang dan bernama Gereja GPIB Immanuel.

[caption id="attachment_2286" align="aligncenter" width="1600"] Taman Srigunting yang terhampar di samping Gereja Blenduk. (foto: 4.bp.blogspot.com)[/caption]

Bangunan gereja yang sekarang merupakan bangunan setangkup dengan facade tunggal yang secara vertikal terbagi atas tiga bagian. Jumlah lantainya adalah dua buah. Bangunan ini menghadap ke Selatan.

Setiap hari Minggu, gereja ini masih digunakan untuk peribadatan. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda seperti Gedung Marba. Bisa dikatakan, Gereja Blenduk berada di sarangnya bangunan tua Kota Semarang.

Gereja Protestan yang lazim disebut Gereja Blenduk nama ini diberikan merunut pada bentuk kubahnya yang dalam bahasa Jawa disebut Blenduk (menggembung), sampai sekarang nama asli gereja ini tidak diketahui.

Setiap renovasi diabadikan lewat tulisan di atas batu marmer yang terpasang di bawah alter gereja. Renovasi-renovasi tersebut sama sekali tidak merubah ciri khas bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat.

Gereja Blenduk ini memiliki denah octagonal atau segi delapan beraturan dengan ruang induk di tengah, tepat di bawah kubah. Di bagian atas gereja, tepatnya di balkon masih terlihat organ (orgel) peninggalan jaman Belanda yang sudah berusia ratusan tahun. Sayang orgel ini sudah tidak bisa difungsikan lagi sebagai pengiring saat jemaah gereja bernyanyi.

Selain berfoto, anda bisa berjalan-jalan di Taman Srigunting yang rindang dan segar oleh semilir angin. Di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan tua Kota Lama yang menarik untuk diabadikan. Di waktu tertentu juga digelar semacam pasar yang menjual barang bekas. Bagi Anda yang suka mengoleksi barang-barang kuno, akan disuguhi perabotan unik, menarik dan kuno.

Bangunan kuno ini juga sering menjadi salah satu tempat untuk foto foto pre-wedding lho.

 
Read more

Sunday, August 27, 2017

Enaknya Manisan Kolang-Kaling Cap Klenteng Semarang

Kata orang, belum ke Semarang jika tak mampir di kolang-kaling “cap Klenteng” di kawasan Gang Lombok Pecinan Kota Semarang. Tepatnya di jalan Gang Lombok no.11, samping klenteng Tay Kak Sie, ada warung sederhana yang sudah tua. Di dalam warung itu, tertulis cukup besar, “Kolang-Kaling Cap Klenteng.” Nah, di tempat itulah tersedia manisan kolang-kaling yang sudah terkenal sejak dulu. Bahkan saking larisnya, Anda harus pesan dahulu agar tidak kehabisan. Biasanya orang mencari kolang-kaling “Cap Klenteng” ini juga sekalian beli Lumpia Gang Lombok Semarang yang  terkenal itu. Tentu kolang-klaing yang disajikan dalam bentuk manisan ini, bukan sembarang kolang-kaling yang umumnya. Kelasnya bisa dibilang kolang-kaling yang seakan bisa dikatakan top brand. Rasanya,begitu sedap dan sangat mendukung jika dihidangkan dengan es campur yang Anda buat.

Warung kolang-kaling “cap klenteng” ini memang tepat di samping klenteng yang sangat terkenal di Semarang yaitu klenteng Tay Kak Sie. Untuk itu, sekalian jika Anda beli kolang-kaling “cap klenteng” ini sebagai oleh-oleh khas Semarang, jangan lupa sekalian mampir di klenteng Tay Kak Sie ini. Sensasi rasa kolang-kaling akan lebih enak dan memberikan nilai yang sejarah juga, apalagi nama brand “cap Klenteng” tentu dikaitkan dengan klenteng Tay Kak Sie yang begitu elok sebagai salah satu klenteng tua dan terbesar.

[caption id="attachment_2237" align="alignnone" width="4608"] Warung kolang-kaling “Cap Klenteng” ini memang tepat di samping klenteng yang sangat terkenal di Semarang yaitu klenteng Tay Kak Sie. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Dalam laman semarangcoret.com, Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng yang paling besar di Semarang. Klenteng ini juga memiliki tempat pemujaan berbagai dewa dan dewi yang lebih lengkap. Nama Tay Kak Sie itu berarti Kuil Kesadaran Agung. Dan, menariknya, jika Anda ingin mampir, sempatkalah mengikuti salah satu perayaan penting di Tay Kak Sie ini, yaitu arak-arakan Kongco Poo Seng Tay Tee, atau yang sering juga disebut sebagai Dewa Pengobatan.

Kolang-kaling “cap Klenteng” tentu akan menarik bagi Anda. Sekali lagi, selain rasanya yang enak untuk dinikmati, bisa dengan campuran es buah atau hanya sekadar Anda makan sebagai manisan, kolang-kaling ini juga tertua di Semarang. Letak warung di kawasan Gang Lombok yang ada di pecinan Kota Semarang akan membuat Anda tidak hanya memburu wisata kuliner, namun sekaligus menikmati sensasi kawasan pecinan Semarang yang sudah tua dan terkenal itu.

 
Read more

Saturday, August 26, 2017

Semaraknya Pasar Semawis Semarang

Sore-sore menjelang malam ke Pasar Semawis, Semarang, rasanya sungguh mengasyikkan. Bagi pencinta kuliner, tentu Pasar Semawis adalah surga. Pasar Semawis adalah pasar malam di daerah pecinan Kota Semarang. Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam, jalan Gang Warung sepanjang 350 meter dipenuhi oleh tenda-tenda penjaja kuliner beserta meja dan kursi. Pusat jajanan terpanjang di Semarang ini buka mulai jam 6 sore hingga tengah malam.

Menurut Wikipedia,  Pasar ini awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Pasar Semawis bermula dengan diadakannya Pasar Imlek Semawis pada tahun 2004, menyusul diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia.

[caption id="attachment_2212" align="aligncenter" width="3264"] Di Tahun Baru Imlek, Pasar Semawis lebih semarak dengan lampion-lampion. (foto: images.harianjogja.com)[/caption]

Memang, di perayaan Tahun Baru imlek. Pasar Semawis yang selalu ramai ini, semakin ramai dan meriah dengan pawai dan pertunjukan Barongsai. Panggung besar digelar dan aneka pertunjukan menarik hadir terus-menerus sampai larut malam. Pengunjungpun tak henti-henti berdatangan.

Selain Kuliner, di ujung kanan dan kiri gang dibuka oleh penjual souvenir, baju, perhiasan, dan sejenisnya. Ada juga stand untuk meramal nasib, pijat refleksi, juga karaoke. Cukup banyak orang-orang setengah baya mengantri untuk bernyanyi karaoke di panggung kecil sederhana. Lagu-lagu kenangan, juga lagu-lagi khas Mandarin yang lembut syahdu mengalir menambah kenikmatan pengunjung yang sedang menikmati makan dan langit malam.

[caption id="attachment_2213" align="aligncenter" width="1024"] Salah satu titik Pasar Semawis yang bersahaja. Semua makanan di sini memang lezat dan khas Semarang. (foto: masgembul.com)[/caption]

Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam hidangan yang bisa Anda pilih bersama keluarga mulai dari siomay khas Gang Pinggir, soto ayam, pisang plenet khas Semarang, gudeg, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga menu-menu steamboat yang menarik untuk dicicipi. Bisa jadi, aneka kuliner di Pasar Semawis ini cukup bisa mewakili jajanan khas Kota Semarang yang selalu laris karena kenikmatannya.

Pasar Semawis, dalam Wikipedia, terletak di jalan Gang Warung, untuk menuju ke sana, ada beberapa jalan yang bisa dipilih. Dari jalan Gajahmada, dapat masuk lewat jalan Wotgandul Barat > Plampitan > Kranggan > parkir di jalan Beteng. Dari jalan Gajah Mada juga dapat masuk langsung ke jalan Kranggan lewat perempatan Depok. Jalur lain adalah lewat Pasar Johar atau Jurnatan, masuk lewat jalan Pekojan > parkir di jalan Gang Pinggir.

Datanglah dan rasakan sendiri suasana dan kelezatan aneka masakan dari Pasar Semawis yang terkenal ini. Makan malam keluarga bisa semakin semarak.
Read more

Saturday, August 19, 2017

Dari “Rainbow Grandpa” ke “Kampung Pelangi” Semarang

Konsep wisata kampung pelangi dekade ini menjadi trend di berbagai kota besar di Indonesia. Padahal, sebenarnya konsep itu, bukanlah sesuatu yang baru. Dalam perkembangan sejarahnya, wisata kampung pelangi seperti yang dapat Anda lihat di Semarang, pernah dikembangkan dengan begitu menarik di kawasan yang dikenal dengan “Rainbow Grandpa” di Taiwan.

[caption id="attachment_2036" align="aligncenter" width="4608"] Salah satu sudut Kampung Pelangi, Semarang. Perkampungan kumuh yang kini menarik banyak wisatawan setelah perubahannya. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Menurut laman ndtv.com, “Rainbow Grandpa” berjarak setengah jam dari Kota Taichung, Taiwan. Dalam ulasan The 'Rainbow Grandpa' Saving a Taiwan Village With Art, diceritakan bahwa  ada kawasan perkampungan yang awalnya terbilang kumuh dan akan diratakan dengan tanah. Namun, karena kegigihan seorang seniman sekaligus veteran perang bernama Huang Yung-fu, akhirnya perkampungan itu menjadi indah dan dikunjungi oleh banyak wisatawan.

Huang Yung-fu  dengan begitu ulet dan bekerja sedemikian keras, berusaha melukis tembok-tembok perkampungan kumuh itu dengan berbagai imaji seni yang menawan. Ia, bahkan mengalami luka pada kaki, karena terlalu lama melipatnya demi melukis setiap tembok perkampungan. Ia menggunakan imajinasinya untuk mewarnai tembok-tembok kumuh dengan hiasan hewan, alam, motif dan berbagai macam dalam gayanya sendiri. Hal itu, tidak akan pernah ia bayangkan akan memberinya banyak perhatian dari orang-orang sekitar Taiwan, bahkan akhirnya menarik perhatian wisatawan dari negara lain. Orang-orang yang datang, bahkan merasa seperti di wonderland.

[caption id="attachment_2038" align="aligncenter" width="4608"] Seperti konsep 'Rainbow Grandpa' ini, Kampung Pelangi juga berangkat dari kawasan kumuh yang diberi sentuhan-sentuhan seni keindahan. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Semacam “Rainbow Grandpa” tentu bisa Anda temukan juga di kota Semarang sekarang yang dikenal dengan sebutan kampung pelangi. Awalnya perkampungan Gunung Brintik Randusari Semarang terkesan begitu kumuh, namun berkat upaya dari pemerintah kota dan warga, jadilah kampung tersebut sebagai kampung yang indah dan mempunyai nilai jual wisata.

Dalam laman bbc.com, dikatakan bahwa proyek kampung pelangi bermula dari rencana perbaikan Pasar Bunga Kalisari yang diinisiasi pemerintah kota. Perbaikan pasar bunga itu dinilai oleh pemerintah kota tidak akan indah, jika kampung yang berada di belakangnya masih kotor dan kumuh. Maka, berjalanlah proyek yang ditaksir menelan biaya sekitar 3 milyar untuk menghias kampung itu dan menyulapnya menjadi kampung pelangi. Harapannya, kampung pelangi dapat menjadi model untuk mengentaskan kemiskinan dan menata pembangunan masyarakat miskin kota.

 
Read more

Thursday, August 17, 2017

Upacara HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Atas ‘Laut’ Puri Maerokoco Semarang

Pegiat wisata Kota Semarangpun tak ingin ketinggalan dengan menggelar upacara unik memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI, di atas ‘laut’.

Menurut jateng.merdeka.com, upacara diselenggarakan di perairan Taman Mangrove yang berada di depan anjungan Kota Semarang, Puri Maerakaca PRPP. Para peserta upacara mengenakan baju khas pejuang kemerdekaan lengkap dengan senjata, sementara petugas pengibar bendera menaiki perahu untuk mencapai tiang bendera yang berada di tengah perairan.

"Sensasinya adalah, upacara bendera di Laut Jawa, tapi Laut Jawa-nya mini karena ini bagian dari Taman Mini Jawa Tengah," sebut Direktur PRPP, Titah Listyorini seusai menjadi pembina upacara tersebut, Kamis (17/8).

Beliau menyebutkan, penyelenggaraan upacara bendera di atas ‘laut’ adalah salah satu upaya mengisi kemerdekaan sekaligus dengan mempromosikan potensi pariwisata. Baginya, semua wajib mengisi kemerdekaan dengan tugas masing-masing, dengan sungguh-sungguh fokus mengerjakan sesuatu dan bertangungjawab, semua punya kewajiban itu sebagai warga negara Indonesia.

"Bagi kami ini cukup mempromosikan Grand Maerokoco ini kepada semuanya bahwa di Jawa Tengah ada Taman Mini Jawa Tengah," tambah dia.

[caption id="attachment_1940" align="aligncenter" width="800"] Salah satu anjungan rumah adat Kota Semarang di Puri Maerokoco. (foto: wikipedia)[/caption]

Saat ini, ia mengakui perkembangan potensi pariwisata di Jawa Tengah khususnya di Kota Semarang melaju cukup pesat. Hal tersebut di antaranya dipengaruhi kesejahteraan masyarakat yang meningkat serta banyaknya bermunculan lokasi wisata baru.

"Sekarang ini sangat-sangat bagus, bergairah karena pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kota Semarang semakin menambah sesuatu yang baru, ada bus yang berkeliling di antara tempat wisata, itu sangat membantu masyarakat mengakses tempat wisata. Dan eventnya juga cukup lengkap, saya kira baguslah semakin kesini semakin bertambah dan menjadi destinasi wisata," jelasnya.

Menurutnya,  perkembangan sektor pariwisata tidak lepas dari campur tangan pemerintah karena berkaitan langsung dengan infrastruktur, khususnya akses menuju tempat wisata.

"Tentu kalau pariwisata tidak bisa lepas dari infrastruktur, dari kebijakan pemerintah, tapi kalau masyarakat banyak yang mengunjungi pemerintah pasti akan membantu," tambahnya.

Puri Maerokoco atau disebut Taman Mini Jawa Tengah Indonesia sendiri adalah sebuah obyek wisata yang terletak 5km dari Tugu Muda. Sebagai taman mini Jawa Tengah, Puri Maerokoco  merangkum semua rumah adat yang disebut dengan anjungan dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Di dalam rumah-rumah tersebut digelar hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing–masing daerah.
Read more