Showing posts with label Wisata Kalimantan. Show all posts
Showing posts with label Wisata Kalimantan. Show all posts

Tuesday, August 29, 2017

Tari Babukung dari Kabupaten Lamandau yang Mencuri Perhatian

Tari Babukung yang berasal dari Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah ini rasanya masih asing di telinga. Namun, menurut Yohanes Indra lewat infonawacita.com, Tari Babukung yang tampil dalam acara Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Indonesia 2017 di Solo, Jawa Tengah ini berhasil memukau penonton dan memberi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Lamandau.

Tari Babukung itu dikabarkan tampil hingga tiga kali saat pembukaan, karnaval, dan penutupan, dan terus membuat penonton terpukau. Antusiasme Masyarakat Solo sangat luar biasa, sehingga Tari Babukung yang dinilai unik, klasik, natural, dan menarik.

[caption id="attachment_2308" align="aligncenter" width="800"] Bukung-bukung dalam Tarian Babukung. (foto: tgifmag.com)[/caption]

Tari Babukung sendiri sebenarnya memiliki filosofi yang amat kuat. Manurut Borneonews.co.id, setidak-tidaknya ada dua makna yang terkandung dalam kegiatan ritual Tari Babukung sebagai sebuah tradisi masyarakat adata Dayak dengan kepercayaan keharingan terdahulu. Yakni, saling membantu (bersedekah kepada keluarga korban yang ditinggal mati), dan makna berbagi yang dituangkan dalam bentuk menghibur orang yang bersedih ditinggal keluarga yang meninggal dengan tarian-tarian lucu.

Para penari dari Tarian Babukung disebut Bukung. Para Bukung, menurut tgifmag.com,  mengenakan Iuha’ ata topeng yang mencirikan 12 hewan dan karakter khas Lamandau. Mulai dari bukung buaya, anjing, udang, tingang (burung rangkong), betet (burung nuri), kelelawar, naga, rusa, bukung belanda, hingga bukung hantu. Yang terakhir ini nampak seram karena muka hantu topeng kayunya didominasi warna merah dan hitam, dan pemakainya berselimut baju dari ijuk. Bukung sendiri berarti hantu.

[caption id="attachment_2309" align="aligncenter" width="800"] Bukung hantu dalam Tarian Babukung. (foto: tgifmag.com)[/caption]

Festival Babukung sendiri diselenggarakan menjadi festival tahunan yang digelar di Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah.  Singkatnya, menurut Wikipedia,  Festival ini berawal dari Babukung merupakan sejenis tarian ritual adat kematian Suku Dayak Tomun di Lamandau. Tarian ini menggunakan topeng dengan karakter hewan tertentu yang disebut Luha, sedangkan para penari disebut Bukung. Bukung-bukung ini datang dari desa tetangga atau kelompok masyarakat dengan tujuan menghibur keluarga duka sembari menyerahkan bantuan. Melihat keunikan dan keeksotisan Babukung, Pemerintah Kabupaten Lamandau mengangkatnya menjadi salah satu agenda rutin festival budaya. Hasilnya ternyata cukup menggembirakan, perhatian dari masyarakat dan turis baik lokal maupun mancanegara sangat antusias.

[caption id="attachment_2310" align="aligncenter" width="800"] Tari Babukung dengan filosofi mendalam bagi kehidupan bersama dalam masyarakat dan yang perlu dilestarikan. (foto: tgifmag,com)[/caption]

Namun demikian, adapun Tari Babakung yang berusaha  dilestarikan saat ini dengan bentuk festival atau semacamnya adalah seni pertunjukkan. Sehingga murni mengambil intisari dari sisi seni dan budayanya, tidak pada sisi kesakralan pelaksanaan tradisinya. Sehingga, yang ditonjolkan salahsatunya adalah seni ukur, koreografo, keunikan kostum, iringan musik dan lain sebagainya.

Memang, lewat budaya ini kita jadi tahu, begitu banyak jenis topeng di Indonesia, juga ritual kepercayaan yang begitu kaya dimiliki oleh Indonesia. Luar biasa membanggakan, bukan?
Read more

Saturday, August 26, 2017

Entikong, Pos Perbatasan Megah dan Membanggakan

Letak Entikong ada di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Wilayah Entikong ini berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Tempat ini menawarkan pengalaman travelling yang berbeda. Anda bisa merasakan langsung suasana perbatasan bila datang ke pos perbatasan Entikong ini.

Setelah beberapa lama tak mendapat sentuhan, pos perbatasan Entikong kini telah berbenah dan mencuri perhatian sebagai tempat wisata. Perbatasan yang telah menjadi suatu bangunan megah ini, digemari banyak wisatawan mancanegara untuk berfoto di beberapa titik yang menarik.

[caption id="attachment_2218" align="aligncenter" width="1024"] Metamorfosa Pos Perbatasan Entikong, dulu dan sekarang. (foto: image.source)[/caption]

Berwisata ke pos perbatasan memang sangat memungkinkan. Berbagai obyek wisata ada di sini. Main ke pasar di mana traveler bisa berbelanja dengan menggunakan dua mata uang, hingga menyeberang ke wilayah Malaysia,Tebedu.

Menurut laman travel.detik.com, banyak bangunan di pos perbatasan Entikon ini yang keren. Salah satunya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Tampil megah sejak tahun lalu, PLBN Entikong yang seluas 80.003 meter persegi ini rencananya akan dibangun sampai 19.493 meter persegi.Desain yang menjungjung lokalitas terlihat dari konsep atap bangunan PLBN yang diadaptasi dari bentuk rumah panjang dan perisai suku Dayak. Gapura setinggi 10 meter berornamen Dayak dengan warna merah, kuning dan putih terlihat di sisi depan.

PLBN Entikong digemari traveler untuk berfoto. Beberapa spot yang dijadikan momen kenangan adalah  Monumen Garuda baik di sisi depan yang menghadap ke Malaysia, maupun di belakang bangunan utama.  Banyak traveler yang asyik berfoto di sisi luar bangunan utama PLBN.

Traveler yang hendak  ke Malaysia atau kembali dari sana sesekali singgah untuk berfoto. Bahkan traveler yang tidak berniat menyeberang ke Malaysiapun jauh-jauh datang ke PLBN hanya untuk berfoto di sana.

Masuk jam-jam ramai seperti siang saat bus lintas negara dari Pontianak datang untuk melewati proses imigrasi, serta sore hari jelang PLBN tutup, semakin ramai kunjungan traveler yang hendak berfoto. Kadang harus menunggu giliran.

[caption id="attachment_2219" align="aligncenter" width="1024"] Jalan menuju Pos Perbatasan Entikong yang kini menjadi akses nyaman. (foto: travelingyuk.com)[/caption]

Salah satu pembangunan yang membuat banyak wisatawan mulai berdatangan ke daerah perbatasan ini, menurut travelingyuk.com adalah akses jalannya yang nyaman. Jika dulu jalan beraspal hanya bisa kamu temui di sisi Malaysia, maka di sisi Indonesia jalanan pun telah beraspal bahkan terdiri dari dua lajur. Pengunjung tak memerlukan waktu 10 jam lagi, melainkan 3 hingga 4 jam saja dari Pontianak. Itupun sudah menyajikan pemandangan hutan gambut yang cantik.

Senangnya, Indonesia punya pos perbatasan Entikong yang megah dan membanggakan ini.
Read more