Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Friday, September 1, 2017

Keindahan Masjid Cheng Hoo Surabaya

Proses perpaduan budaya memang menarik untuk menjadi sebuah kunjungan bagi wisata. Apalagi perpaduan itu, sangat terasa dari segi etnis dan agama yang menjadikannya menjadi unik dan menarik untuk dikunjungi. Salah satu yang indah dan unik adalah perpaduan antara Islam dan budaya Tiongkok dengan Masjid Cheng Ho atau juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya. Masjid ini terletak di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur.

Dalam laman ekspedisiwisata.blogspot.co.id dikatakan bahwa transportasi menuju ke lokasi Masjid Cheng Ho, dapat melalui Jalan Taman Kusuma Bangsa, tepatnya di seputar Jalan Gading Ketabang, Genteng, sebelah utara Gedung Balaikota Surabaya.

Masjid Cheng Ho ini dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa. Dilihat dari bentuk bangunannya pun sangat menarik bagi kunjungan wisata, terutama nuansa etnik dan antik perpaduan antara bangunan masjid dengan klenteng.

[caption id="attachment_2377" align="aligncenter" width="1024"] Masjid Cheng Ho atau juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya. (foro: Yugo Antono)[/caption]

Dalam laman travel.detik.com, dikatakan bahwa pengambilan nama Cheng Hoo sebagai rasa syukur dan penghormatan segenap muslim Surabaya dan Indonesia terhadap Laksamana Cheng Ho yang tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Bentuk bangunan Masjid Cheng Ho memang mempunyai keunikan tersendiri, dimana ada perpaduan gaya Tiongkok dan Arab yang diilhami keindahan Masjid Niu Jie di Beijing. Untuk itu, Masjid Cheng Ho pantas menjadi salah satu tempat kunjungan wisata ziarah. Perpaduan arsitekturnya tentu dapat mengingatkan akan indahnya keberagaman dan pesan perdamaian bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Maka, jika Anda ke Surabaya, mampir dan berziarahlah ke Masjid Cheng Ho yang terkenal ini. Anda tentu akan disuguhi pelajaran berharga tentang keindahan perpaduan budaya. Perpaduan budaya yang memberikan kita kesadaran akan indahnya Kebhinnekaan.

Masjid jika Anda perhatikan memang dibangun dengan filosofi tanpa pintu sebagai simbol keterbukaan. Bangunan Masjid Cheng Ho seakan ingin mengatakan pesan kepada siapa pun, dari etnis, bangsa dan bahasa apapun, berhak menggunakan masjid ini untuk beribadah. Model Masjid Cheng Ho ini sekarang banyak muncul di berbagai Kota lain di Jawa Timur, yaitu Pasuruan dan Jember.

 

 

 

 
Read more

Wednesday, August 16, 2017

Jalan Kepanjen Surabaya Akan Dijadikan Kawasan Wisata Sejarah

Kawasan Jalan Kepanjen, Surabaya akan disulap menjadi kawasan wisata heritage. Keinginan Wali Kota Tri Rismaharini tersebut untuk membangkitkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang penuh dengan sejarah perjuangan.

Di kawasan tersebut memang dikenal memiliki beberapa bangunan bersejarah. Seperti SMPN 2, Masjid Kemayoran, Gereja Maria Perawan, dan Kantor Pos Kebonrojo.

"Yang gedung kantor pos itu kan dulunya sekolah SD Presiden Soekarno, ada juga gereja, SMPN 2 yang bangunannya bersejarah juga dan ada juga bangunan Masjid Kemayoran yang semuanya satu kawasan," kata Risma usai Sidang istimewa di Gedung DPRD Surabaya, Rabu (16/8/2017), dikutip dari detik.com.

Risma menuturkan rencananya. Ia berencana kawasan tersebut akan ditata secara khusus untuk menjadi kawasan wisata sejarah dengan beberapa kawasan di kawasan Surabaya utara lainnya.

"Jadi kawasan itu adalah salah satu simbol kota Surabaya yang akan kita tata khusus jadi kawasan wisata," ujar Risma.

Perencanaan matang


Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini akan mengajak kepala SKPD terkait melakukan survei lokasi untuk menjadikan kawasan Jalan Kepanjen, sebagai kawasan wisata.

Kapan akan dimulai, apakah mulai tahun ini? Risma mengaku berencana tahun depan. Alasannya, karena butuh perencanaan yang matang agar hasilnya maksimal.

"Pasti besar (anggaran) mungkin tahun depan. Kita harus menata jalan, PJU, menata pengamanannya, sirkulasi traffic sehingga bisa jadi kawasan wisata," tambah mantan Kepala Bappeko dan Kepala DKP Surabaya ini. (*)

Sumber: Detik.com
Read more

Friday, August 4, 2017

Catat Tanggalnya, Saatnya Anda Merasakan Kemerdekaan Jiwa di Jazz Traffic

Festival "Jazz Traffic" 2017 mengusung tema "Souls of Freedom" atau Kemerdekaan Jiwa yang diagendakan berlangsung selama dua hari setelah peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, 18-19 Agustus.

Penggagas Jazz Traffic Festival (JTF) Errol Jonathans, di Surabaya, Minggu, 31 Juli 2017 lalu mengatakan tema tersebut dicuplik dari "Jazz Stands for Freedom" yang merupakan opini dari pianis dan komposer musik jaz Dave Brubeck.

"Kami ingin menarik benang merah tapak sejarah seperti opini 'Jazz Stands for Freedom' oleh pianis dan komposer jaz Dave Brubeck," katanya lagi.

Musik yang memerdekakan


Menurut dia, sejatinya musik jaz adalah ekspresi tentang kebebasan atau kemerdekaan jiwa.

JTF pertama kali digelar tahun 2011. Sejak itu menjadi agenda musik jaz rutin tahunan di Surabaya.

Errol mengatakan penyelenggaraan JTF tahun ini akan memperjelas orientasinya sebagai festival yang memuliakan semua jenis musik.

Meski mengusung label jaz, dia menegaskan, JTF 2017 tetap konsisten memerdekakan dirinya. Hal itu diwujudkan dengan menyediakan panggung bagi genre musik pop, rock, etnik, hingga musik yang sekadar beraroma jaz dan ekstrak jaz murni.

"Tentu saja porsi musik jaz tetap lebih kental di JTF 2017. Inilah keistimewaan JTF untuk memerdekakan selera khalayak yang leluasa memilih artis favoritnya," ujarnya pula.

Dia menambahkan, JTF 2017 yang digelar selama dua hari usai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga menjadi spirit tersendiri dalam kemerdekaan hidup.

"Spirit kemerdekaan inilah yang akan ditangkap dalam penyelenggaraan dua hari JTF 2017 bersama lebih dari dari 200 musisi," katanya lagi.

Ini dia musisi-musisinya


Dia merinci sejumlah musisi telah diundang dalam JTF 2017, di antaranya adalah Indra Lesmana Keytar Trio yang akan mewakili genre "jazz mainstream".

Selain itu, Yura Yunita akan tampil mewakili genre 'fusion jazz, serta Virgoun dan Sheila On 7 mewakili genre nonjaz.

Genre musik jaz yang lebih futuristik, lanjut Errol, juga akan ditampilkan di JTF 2017, dengan menampilklan Budjana Zentuary.

"Juga banyak penampilan generasi baru dalam dunia musik jaz yang pendekatannya tidak lagi semata-mata mengandalkan 'jazz mainstream' tapi juga kreasi mereka yang disesuaikan dengan generasi kekinian," ujarnya pula.

Sumber: Antara
Read more