Showing posts with label Papua. Show all posts
Showing posts with label Papua. Show all posts

Sunday, September 3, 2017

Kwatisore, Desa Hujan nan Syahdu

Eksotisme bumi Papua, secara khusus di kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire, Papua semakin indah jika Anda mampir di sebuah desa unik nan elok di kawasan ini. Desa itu dinamai Kwatisore. Nama desa itu diambil dari singkatan "Kwatir Sore". Dalam laman travel.detik.com dan brilio.net, “Kwatir Sore” merupakan ungkapan dari penduduk desa yang selama ini senatiasa kuatir jika sore hari menjelang.

Setiap sore, anehnya di seputar desa ini, hujan senantiasa mendera. Maka, penduduk desa sudah puluhan tahun membiasakan diri tidak berpergian pada sore hari karena hujan selalu turun. Masyarakat desa selama bertahun-tahun telah terbiasa hidup dengan curah hujan yang sedemikian, sehingga jika ingin berpergian, mereka akan menghindari berpergian di sore hari.

Desa Kwatisore dikenal masih segar karena tidak banyak kendaraan bermotor memasuki desa ini. Walaupun bukan tipe desa terisolir, namun desa ini tetap mempertahankan nilai tradisionalnya. Sebagian besar bahan penutup rumah di desa ini terbuat dari kayu. Tanaman anggrek pun banyak ditanam di pekarangan rumah. Apalagi anggrek yang ditanam merupakan anggrek hutan yang memang sudah biasa tumbuh di hutan belantara tanah Papua. Selain itu, ada beberapa warganya yang suka memelihara hewan yang terbilang liar, seperti rusa dan buaya muara.

[caption id="attachment_2417" align="aligncenter" width="4096"] Penduduk Desa Kwatisore bersahabat dengan hiu paus. (foto: nomad expedition)[/caption]

Letak desa Kwatisore yang berada di kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih, membuat penduduk desanya sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan. Dalam laman goodnewsfromindonesia.id, dikatakan, bahkan warga desa Kwatisore bersahabat dengan hiu paus (whale shark). Hal itu, disebabkan populasi hiu paus di Teluk Cendrawasih cukup besar, bahkan terbilang terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa terdapat banyak sekali hiu paus di taman nasional ini.  Masyarakat Kwatisore pun sampai memiliki panggilan khusus kepada para hiu paus ini, yaitu ikan hantu atau dalam bahasa setempat disebut hiniotanibre.

Ikan hiu paus kadang muncul dengan tiba-tiba mendekati kole–kole, sejenis perahu panjang yang digunakan melaut warga desa. Mereka saling menyapa dan begitu akrab. Rasanya, melihat desa Kwatisore selayaknya melihat surga, dimana mereka terbebas dari pencemaran bahkan hiruk pikuk kota yang bising dan keras.

 
Read more

Tuesday, August 15, 2017

Menjenguk Pulau Liki, Salah Satu Pulau Terluar di Papua yang Penuh Pesona

Papua tak pernah kehilangan pesona. Bahkan, banyak orang bilang jika Papua adalah sebuah surga yang diciptakan Tuhan di dunia. Salah satu yang perlu ditengok adalah Pulau Liki.

Di wilayah paling timur Indonesia tersebut berbagai kekayaan alam bisa dilihat, dirasakan, dan dinikmati. Salah satu tujuan traveler ke Papua adalah demi wisata bahari. Hampir seluruh penjuru bahari Papua memiliki keindahannya tersendiri, termasuk Pulau Liki.

Nama salah satu dari enam pulau terluar di Provinsi Papua ini tak setenar Raja Ampat. Setidaknya sampai sejauh ini. Namun, pulau yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Sarmi sangat disarankan untuk masuk dalam daftar senarai liburan Anda.

Menurut laman resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan, kkp.go.id, pulau tersebut merupakan bagian dari Kepulauan Kumamba. Selain Pulau Liki, di kepulauan tersebut terdapat Pulau Kosong dan Pulau Armo.

Pulau Liki merupakan pulau berpenghuni yang merupakan hak ulayat dari marga Weirau, Esries, Morsau, Kimam, dan Theno. Suku Sobey merupakan penghuni pulau ini, salah satu dari lima suku utama di Kabupaten Sarmi.

Surfing, diving, snorkeling? Bisa


Menurut situs harianpapua.com, gelombang ombak di perairan Pulau Liki cocok untuk surfing atau selancar. Ini karena didukung garis pantai dengan pasir putih yang halus.

Terumbu karang di sana pun terjaga kelestariannya. Tentunya, wisata bawah laut seperti snorkeling dan diving sangat sesuai.

[caption id="attachment_1886" align="aligncenter" width="640"] Atraksi lumba-lumba yang dapat dilihat langsung di Pulau Liki. (foto: Christopel Paino/mongabay.co.id)[/caption]

Selain keindahan bawah lautnya, Pulau Liki yang langsung mengarah ke Samudera Pasifik memiliki spot bermain ikan lumba-lumba. Ikan-ikan ini dapat dilihat secara jelas meski hanya dari bibir pantai karena lokasi bermainnya seringkali mendekat ke pantai.

Nah, buat mereka yang menyukai pantai, biasanya juga menanti suasana senja ketika matahari perlahan tenggelam. Percayalah, senja di Pulau Liki punya daya pikatnya tersendiri.

Bagaimana menuju ke sana?


Menuju ke Pulau Liki tentu sebuah tantangan tersendiri bagi para traveler. Jika Anda berangkat dari Jayapura, sekitar delapan jam perjalanan harus ditempuh menuju Sarmi.  lalu, lanjutkanlah perjalanan menggunakan speed boat.

Biaya sewa speed boat berkisar Rp1 juta hingga Rp 1,5 juta. Mahal? Tentu saja jika Anda pergi seorang diri ke sana.  Maka, rencanakanlah liburan secara kolektif sekitar lima sampai enam orang. Akan lebih hemat, bukan?

[caption id="attachment_1888" align="aligncenter" width="640"] Ikan asin tenggiri yang menjadi ciri khas produk olahan masyarakat di Pulau Liki. (Foto: Christopel Paino/mongabay.co.id)[/caption]

Masih menurut harianpapua.com, dalam memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat Liki hanya sebatas menjual hasil kebun. Anda akan menemui pinang, sayur-mayur, dan juga buah-buahan. Mereka menjual ke pasar dekat pantai. Pasar yang hanya buka pagi hingga menjelang siang.

Sedangkan untuk tangkapan ikan mereka dapat langsung membawanya menggunakan speed boat ke Sarmi Kota. Jangan heran, hampir semua penduduk Pulau Liki adalah nelayan.

Bagi para traveler sejati, sekelumit informasi ini hanyalah sekadar pintu untuk menguak lebih lanjut potensi yang ada di sana. Bahkan, bukan tidak mungkin Anda bisa menjadi bagian dari kemajuan masyarakat setempat.

“Potensi besar dari jasa kelautan ini harus digenjot secara professional agar wilayah perairan di Pulau Liki dan Sarmi yang memiliki daya tarik tersendiri tidak hanya  menarik wisatawan. Namun juga, bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” kata Rahman Dako, konsultan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pulau-pulau terluar, dikutip dari mongabay.co.id. (*)
Read more

Saturday, August 5, 2017

Ingin Saksikan Pertunjukan Perang Antarsuku? Datanglah ke Festival Lembah Baliem

Jika ingin melihat dan mengenal langsung suku asli Papua datanglah ke Festival Lembah Baliem. Di sana akan ada ratusan suku yang datang dan membawa beragam keunikan budayanya.

Di festival tahunan ini, mereka akan mempertunjukkan bagaimana tradisi perang yang diturunkan nenek moyang. Pertunjukan peperangan antarsuku ini biasanya akan dibalut dengan tari-tarian dan dipadu dengan keindahan Lembah Baliem yang menambah keeksotisan dari festival ini.

Lembah Baliem sendiri adalah sebuah lembah yang berada di Pegunungan Jayawijaya, Papua. Festival Lembah Baliem tahun ini akan diadakan pada 8-11 Agustus mendatang.

“Silakan ke Papua, hanya di Festival Lembah Baliem anda bisa menikmati sensasi keindahan alam dan budaya Papua yang unik,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya seperti yang diinformasikan Kementerian Pariwisata melalui facebook, Sabtu (5/8).

Tradisi adat yang sudah ada sejak 1989 ini telah dikenal hingga mancanegara, biasanya para travel fotografer tidak akan melewatkan festival ini. Indahnya pemandangan Lembah Baliem serta atraksi peperangan yang dilakukan oleh suku-suku asli Papua menjadi daya tarik yang membuat mereka selalu menantikan acara ini setiap tahunnya.

“Selain aksi peperangan dan pertunjukan tradisional lainnya, wisatawan pun bisa berinteraksi langsung dengan para penduduk asli Papua. Dan tenang saja, walau disebut perang, acara ini aman kok disaksikan oleh wisatawan,” jelas Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti.
Mulai aksi perang hingga karapan babi

[caption id="attachment_1543" align="aligncenter" width="800"] foto: indonesiatravelmagazine.com[/caption]

Esthy menjelaskan suku-suku asli Papua yang tersebar di beberapa lokasi akan berkumpul di lembah ini. Mulai dari Suku Dani, Suku Yali, hingga Suku Lani hadir di sana untuk memeriahkan acara tersebut. Festival Lembah Baliem merupakan acara perang antarsuku Papua yang dilakukan sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Para prajurit kebanggaan suku-suku tersebut akan adu kekuatan mereka.

Selain tari tradisional akan ada pertunjukan musik tradisional menggunakan Pikon. Selain itu ada pula karapan babi, aksi teatrikal, lomba panahan, dan lempar tombak. Kemudian ada permainan Sikoko dan Puradaan, peragaan memasak dengan cara tradisional, dan pameran kerajinan tangan asli masyarakat suku adat Papua. Jadi jangan lewatkan festival Lembah Baliem yang eksotis ini. (RA/yi)

Sumber: Infonawacita.com
Read more